Saturday, July 1, 2023

Bukti cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahuwata'ala dan ciri-cirinya.

Bukti cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahuwata'ala dan ciri-cirinya.

Mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata'ala, bertakwa, dan mencintai Allah Subhanahuwata'ala adalah asas utama agama Islam. Dengan sempurnanya kecintaan seorang hamba kepada Allah, maka sempurna pula keimanannya. Dan dengan berkurangnya rasa cinta seorang hamba kepada Allah Subhanahuwata'ala, maka berkurang pula kadar tauhid dan keimanan dalam diri seorang hamba.


Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


يٰٓاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَابْتَغُوْٓا اِلَيْهِ الْوَسِيْلَةَ وَجَاهِدُوْا فِيْ سَبِيْلِهٖ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ  


Maksudnya:"Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan untuk mendekatkan diri) kepada-Nya, dan berjihadlah (berjuanglah) di jalan-Nya agar kamu beruntung".  Al-Maidah ayat  35.


Kecintaan kepada Allah Subhanahuwata'ala hukumnya adalah wajib menurut kesepakatan kaum muslimin. Setiap hamba dituntut untuk mengusahakan dalam setiap perkara yang boleh menghantarkannya menuju kepada rasa cinta kepada Allah Subhanahuwata’ala sehingga akhirnya imannya menjadi sempurna.


Sesungguhnya, kecintaan kita kepada Allah Subhanahuwata'ala itu seperti pohon yang tumbuh dengan subur. Akarnya kuat terbenam dalam bumi dan ranting-rantingnya menjulang tinggi ke langit. Tanda-tanda kecintaan ini akan nampak di hati dan anggota badan pemiliknya, seperti satu pohon yang buahnya berlimpah menandakan bahawa pohon tersebut tumbuh dengan baik dan subur.


Berikut ini adalah beberapa ciri yang membuktikan kejujuran cinta kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Ciri-ciri yang sudah semestinya dimiliki oleh setiap muslim yang mengaku cinta kepada Tuhan-Nya, Allah Subhanahuwata’ala.


Pertama: Hamba yang mencintai Allah Subhanahuwata’ala kerana sibuknya ia dengan beribadah dan bermunajat kepada Allah Subhanahuwata’ala serta membaca kitab-Nya. Ia akan terlupa selain dari Allah Subhanahuwata’ala. Beribadah kepada Allah menjadi penyejuk hati dan penggembiranya sebagaimana sabda Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam,


حُبِّبَ إِلِيَّ مِنْ دُنْيَاكُمُ النِّسَاءُ وَالطِّيبُ وَجُعِلَتْ قُرَّةُ عَيْنِي فِي الصَّلَاةِ


Maksudnya:"Dijadikan kecintaan pada diriku dari dunia kalian (iaitu) wanita-wanita (isteri-isteri beliau) dan wangian. Dan dijadikanlah penyejuk hatiku dalam solat". Riwayat An-Nasa’i (3939), Ahmad (14069) dan Baihaqi (13836)


Kedua: Sabar di atas ketaatan dan di saat menghadapi kesulitan.


Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


وَلِرَبِّكَ فَاصْبِرْ


Maksudnya:"Dan kerana Tuhanmu, bersabarlah". Al-Muddassir ayat 7.


Ramai dari kita yang mengakui mencintai Allah Subhanahuwata’ala, padahal kecintaannya itu adalah kecintaan yang palsu. Berapa ramai dari kita yang tidak dapat bersabar saat ditimpa sebuah ujian dan musibah, padahal kesabaran merupakan pembuktian cinta yang paling besar. Allah Subhanahuwata’ala mengisahkan Nabi Ayyub ‘alaihissalam saat ia diberi ujian oleh Allah Subhanahuwata’ala,


إِنَّا وَجَدْنَاهُ صَابِرًا نِعْمَ الْعَبْدُ إِنَّهُ أَوَّابٌ


Maksudnya:"Sesungguhnya Kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat (kepada Allah)". Sad ayat 44.


Ketiga: Orang yang jujur di dalam cintanya kepada Allah Subhanahuwata’ala, di saat ia mengingat dan berzikir kepada Allah dalam kesendirian, hatinya menjadi takut dan air matanya pun bercucuran kerana rasa takutnya kepada Allah Subhanahuwata’ala. Mereka berhak mendapatkan kasih sayang Allah berupa naungan-Nya di hari kiamat. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِيْ ظِلِّهِ يَوْمَ لَا ظِلَّ إِلَّا ظِلُّهُ: (وَمِنْهَا) رَجُلٌ ذَكَرَ اللهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ


Maksudnya:"Tujuh golongan yang dinaungi Allah dalam naungan-Nya pada hari di mana tidak ada naungan, kecuali naungan-Nya: (salah satunya) seseorang yang berzikir kepada Allah dalam keadaan sunyi hingga ia menitiskan air matanya.” Riwayat Bukhari (6806) dan Muslim (1031)


Keempat: Mencintai Al-Qur’an sepenuh hati.


Sebagaimana perkataan Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhu,


مَنْ كَانَ يُحِبُّ أَنْ يَعْلَمَ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَلْيَعْرِضْ نَفْسَهُ عَلَى القُرْآنِ؛ فَإِنْ أَحَبَّ القُرْآنَ فَهُوَ يُحِبُّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ، فَإِنَّمَا القُرْآنُ كَلَامُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ


Maksudnya:"Siapa yang ingin mengetahui apakah ia benar-benar mencintai Allah ‘Azza Wajalla, maka biarkan dirinya di hadapan Al-Qur’an. Jika ia mencintai Al-Qur’an, maka ia juga mencintai Allah Subhanahuwata’ala, kerana sesungguhnya Al-Qur’an merupakan kalamullah".


kelima: Menyesal jika terluput dan terlewat dari sebuah ketaatan kepada Allah, menyesal apabila kita lupa tidak berzikir kepada Allah Subhanahuwata’ala, menyesal jika tidak membaca zikir di waktu pagi dan petang.


Bukan hanya menyesal saja, jika kita memang mencintai Allah Subhanahuwata’ala, kita juga akan berusaha untuk mengganti, mengqada amalan yang kita tinggalkan tersebut secepatnya, sebagaimana hal ini dilakukan oleh Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam. Aisyah radhiyallahu ‘anha menceritakan,


كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم إِذَا عَمِلَ عَمَلاً أَثْبَتَهُ، وَكَانَ إِذَا نَامَ مِنَ اللَّيْلِ أَوْ مَرِضَ؛ صَلَّى مِنَ النَّهَارِ ثِنْتَيْ عَشْرَةَ رَكْعَةً


Maksudnya"Nabi Subhanahuwata’ala jika beliau mengerjakan sebuah amalan, maka akan benar-benar serius dan berusaha untuk konsisten melaksanakannya. Jika beliau (mendapati halangan dari melaksanakan solat malam kerana) tertidur di satu malam atau sakit, maka beliau akan solat di siang harinya 12 rakaat (sebagai pengganti salat malamnya)". Riwayat Muslim (746)


Keenam: Sentiasa mengikuti dan tunduk terhadap syariat Allah Subhanahuwata’ala. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمْ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Maksudnya:"Katakanlah (Muhammad), “Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang". Al-Imran ayat 31.


Ibnu Katsir rahimahullah mengatakan,


“Sungguh ayat yang mulia ini membantah setiap orang yang mengaku-ngaku cinta kepada Allah Ta’ala, namun ia tidak di atas jalan dan ajaran Nabi Muhammad Sallallahu‘alaihiwasallam. Sungguh mereka adalah pendusta atas apa yang mereka dakwakan hingga mereka benar-benar mengikuti ajaran yang diturunkan kepada Nabi Muhammad, agama islam ini dalam setiap perkataan dan perbuatan".


Ketujuh: Zuhud dalam urusan dunia; mencukupkan diri dan tidak berlebihan di dalam urusan duniawi. Apabila seseorang hamba semakin mencintai Allah Subhanahuwata’ala, maka semakin zuhud juga dirinya terhadap perkara duniawi, lebih menyibukkan diri dengan amalan-amalan yang akan menjadi bekalnya di akhirat nanti.


Zuhud kita atau rasa cukup kita terhadap perkara duniawi akan membawa dua cinta kepada diri kita, cinta Allah Subhanahuwata’ala dan cinta manusia. Suatu ketika ada seorang sahabat yang datang kepada Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam, lalu bertanya,


“Wahai Rasulullah, tunjukkanlah kepadaku sebuah amalan yang apabila aku mengamalkannya, Allah Subhanahuwata’ala dan manusia akan mencintaiku.”


Maka Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam pun menjawab,


ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا فِي أَيْدِي النَّاسِ يُحِبُّوكَ


Maksudnya:"Bersikaplah zuhud terhadap dunia, nescaya Allah Subhanahuwata’ala akan mencintaimu. Dan bersikaplah zuhud terhadap apa yang ada pada manusia, nescaya mereka akan mencintaimu". Riwayat Ibnu Majah (3326)


Dalam mencintai Allah tentu tidak cukup hanya berupa ucapan lisan kita yang mengatakan bahwa aku mencintai-Mu ya Allah, tetapi perasaan cinta itu mesti kita buktikan selain dengan ucapan, tetapi dengan hati yang penuh dengan keyakinan dan juga dengan perbuatan kita yang menunjukkan kecintaaan kita kepada Allah Subhanahuwata’ala. Jadi dalam mencintai Allah dapat kita ungkapkan melalui lisan, meyakini dalam hati dan melakukan dengan tindakan. Mengapa kita cinta kepada Allah, kerana Allah telah menciptakan kita dengan penuh kasih sayang.


Cinta kepada Allah sebagaimana dalam firmanNya dalam surat Ali Imran ayat 31 yang berbunyi,


قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


Maksudnya:"Katakanlah: "Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, nescaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu". Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.


Sesungguhnya besar kadar cinta seseorang kepada Allah Subhanahuwata'ala terukur dengan kesesuaian dia jujur dalam mengikuti Nabi, baik dalam aqidahnya, ibadahnya, akhlaknya, muamalahnya dan tuntunan-tuntunan beliau yang lainnya.


Thursday, June 22, 2023

Larangan menertawakan orang yang ditimpa musibah walaupun kejadian itu dianggap kelakar.

Larangan menertawakan orang yang ditimpa musibah walaupun kejadian itu dianggap kelakar.

Ketawa dan gurauan merupakan fitrah kejadian manusia. Tanpanya kehidupan akan menjadi hambar, sedih dan kurang bermotivasi untuk hidup dalam menjalankan tanggungjawab masing-masing. Islam agama lengkap tidak akan menghapuskan sesuatu yang bersifat fitrah kejadian seperti keinginan berkahwin bahkan akan membimbingnya bagi memastikan fitrah itu diurus dengan baik.


Dalam bahasa arab manusia disebut sebagai حيوان ناطق yang bermaksud haiwan yang berkata-kata. Juga masyarakat arab biasa menyebut manusia sebagai حيوان ضاحك yang bermaksud haiwan yang ketawa.


Firman Allah Subhanahuwata'ala,


وَأَنَّهُ هُوَ أَضْحَكَ وَأَبْكَىٰ


Maksudnya:"dan bahawasanya Dialah yang menjadikan orang tertawa dan menangis". Al-Najm ayat 43.


Allah Subhanahuwata'ala juga memuji perbuatan ini sebagaimana firman-Nya,


وُجُوهٌ يَوْمَئِذٍ مُسْفِرَةٌ. ضَاحِكَةٌ مُسْتَبْشِرَةٌ


Maksudnya:"Banyak muka pada hari itu berseri-seri, tertawa dan bergembira ria,

'Abasa ayat 38-39.


Hakikatnya, Islam sebagai panduan hidup manusia tidak pernah melarang manusia untuk berhibur dan berjenaka. Hiburan dan jenaka itu adalah fitrah tabiat manusia dan tanpanya kehidupan akan menjadi hambar, sedih dan kurang bermotivasi untuk hidup menjalankan tanggungjawab masing-masing.


Tetapi fitrah yang diberikan Allah kepada kita haruslah digunakan dengan sebaik-baiknya berlandaskan panduan al-Quran dan Sunah Baginda Rasulullah.


Mutakhir ini ramai yang menggunakan media sosial bagi tujuan mentertawakan orang lain apabila seseorang itu ditimpa sesuatu keadaan. Perbuatan demikian bukanlah satu perbuatan yang dibenarkan dalam Islam.


Dari Abu Hurairah radiallu'anhu,Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam,


….بِحَسْبِ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْيَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ كُلُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ حَرَامٌ دَمُهُ وَمَالُهُ وَعِرْضُهُ.


Maksudnya:".....Seseorang telah dianggap berbuat jahat apabila ia menghina saudaranya sesama muslim. Muslim yang satu dengan yang Iainnya haram darahnya. hartanya, dan kehormatannya". Riwayat Muslim(4650)


Media sosial pada zaman sekarang telah digunakan oleh sebahagian orang sebagai satu medium untuk  merendah-rendah dan mentertawakan orang lain yang bernasib malang.


Dalam hal ini Allah Subhanahuwata'ala berpesan dalam berfirman-Nya di dalam Surah Al-Hujuraat ayat 11,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا يَسْخَرْ قَوْمٌ مِنْ قَوْمٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُونُوا خَيْرًا مِنْهُمْ وَلَا نِسَاءٌ مِنْ نِسَاءٍ عَسَىٰ أَنْ يَكُنَّ خَيْرًا مِنْهُنَّ ۖ وَلَا تَلْمِزُوا أَنْفُسَكُمْ وَلَا تَنَابَزُوا بِالْأَلْقَابِ ۖ بِئْسَ الِاسْمُ الْفُسُوقُ بَعْدَ الْإِيمَانِ ۚ وَمَنْ لَمْ يَتُبْ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الظَّالِمُونَ


Maksudnya:"Wahai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik. Dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. Seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan barangsiapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang zalim.


Pengertian سُخرِيَّة di dalam ayat adalah tindakan menghina, merendahkan, dan mengangkat aib serta kekurangan orang lain dengan jalan mentertawakannya. Hal itu dapat dilakukan dengan perbuatan atau ucapan, terkadang dengan isyarat dan petunjuk tertentu.


Perbuatan sebegini hanya ada pada mereka yang tidak ada akhlak dan penuh dengan kebencian. Perbuatan itu juga boleh memberi kesan buruk kepada orang lain.


Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ حَسْبُ امْرِئٍ مِنْ الشَّرِّ أَنْ يَحْقِرَ أَخَاهُ الْمُسْلِمَ


Maksudnya:"Abu Hurairah bahawa Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Cukuplah seseorang dikatakan telah berbuat jahat jika ia merendahkan saudaranya muslim". Riwayat Ibnu Majah (4203)


Sebagai seorang muslim kita diajar oleh Baginda Rasulullah untuk sentiasa merasai kepahitan seorang muslim yang lain seperti jasad yang satu.


عَنِ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَنَّهُ قَالَ مَثَلُ الْمُؤْمِنِينَ فِي تَوَادِّهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ تَدَاعَى سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهَرِ وَالْحُمَّى


Maksudnya:"Dari Nukman bin Basyir, dari Nabi Sallallahu'alaihiwasallam, baginda bersabda: “Perumpamaan kaum Mukmin dalam berkasih sayang dan persaudaraan sesama mereka adalah seperti satu jasad. Jika salah satu anggota badan sakit, maka seluruh badan akan turut merasa sakit dengan berjaga malam dan demam.” Riwayat Ahmad (17654)


Bagi seseorang yang diuji oleh Allah dengan apa juga perkara yang dihadapinya itu merupakan kasih sayang Allah kepadanya agar dia segera kembali kepada Yang Esa.


Jika seseorang itu sabar atas ujian yang diberikan Allah kepadanya maka ganjaran dan pahala akan disediakan tetapi jika sebaliknya dan berdegil tidak mahu kembali kepada Allah maka tempatnya adalah neraka.


كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ ۗ وَنَبْلُوكُمْ بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً ۖ وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ


Maksudnya:"Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan". Al-Anbiya Ayat 35


Bagi kita pula yang melihat seseorang itu diuji oleh Allah seharusnya kita sentiasa berdoa agar Allah memelihara kita daripada perbuatan-perbuatan yang tidak diredai Allah dan membuka hati si pelaku untuk bertaubat kepadaNya.


Jangan kita gunakan kejatuhan seseorang untuk bergelak ketawa. Ini berdasarkan di dalam sebuah hadith: Pada suatu hari, seorang pemuda Quraisy berkunjung kepada Aisyah, isteri Rasulullah, ketika dia sedang berada di Mina. Kebetulan saat itu para sahabat sedang tertawa, hingga Aisyah merasa hairan dan sekali gus bertanya: Mengapa kalian tertawa?


عَنْ الْأَسْوَدِ قَالَ دَخَلَ شَبَابٌ مِنْ قُرَيْشٍ عَلَى عَائِشَةَ وَهِيَ بِمِنًى وَهُمْ يَضْحَكُونَ فَقَالَتْ مَا يُضْحِكُكُمْ قَالُوا فُلَانٌ خَرَّ عَلَى طُنُبِ فُسْطَاطٍ فَكَادَتْ عُنُقُهُ أَوْ عَيْنُهُ أَنْ تَذْهَبَ فَقَالَتْ لَا تَضْحَكُوا فَإِنِّي

سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُشَاكُ شَوْكَةً فَمَا فَوْقَهَا إِلَّا كُتِبَتْ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَمُحِيَتْ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ


Masudnya:"  Dari Al Aswad dia berkata; "Pada suatu hari, seorang pemuda Quraisy berkunjung kepada [Aisyah], isteri Rasulullah, ketika ia sedang berada di Mina. Kebetulan saat itu para sahabat sedang tertawa, hingga Aisyah merasa hairan dan sekaligus bertanya; 'Mengapa kalian tertawa? ' Mereka menjawab; 'Si fulan jatuh menimpa tali kemah hingga Iehernya (atau matanya) hampir lepas.' Aisyah berkata; 'Janganlah kalian tertawa terbahak-bahak! Kerana sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam bersabda: 'Tidaklah seorang muslim tertusuk duri atau yang Iebih kecil dari itu, melainkan akan ditulis baginya satu derajat dan akan dihapus satu kesalahannya". Riwayat Muslim(4664)


Imam Nawawi apabila mensyarahkan hadith ini mengatakan larangan bagi seorang muslim untuk mentertawakan orang lain disebabkan kejatuhannya melainkan jika dia tertawa tanpa sengaja (seperti seseorang yang tiba-tiba tergelincir jatuh di hadapan kita dan kemudian tidak sengaja kita tertawa).


Adapun bagi mereka yang sengaja maka ia adalah satu perkara yang keji kerana menghina orang lain dan menyebabkan hatinya terluka.


Berapa ramai hari ini yang mentertawakan orang lain seperti jika kita melihat seseorang itu terjatuh dari tangga, mungkin kita melihat orang yang kita tidak suka tersungkur dalam perniagaan atau kerana melihat penceraian seseorang dengan kita mengatakan 'padan muka engkau'.


Ingatlah bahawa seseorang itu tidak mengetahui akan pengakhirannya bagaimana adakah hidupnya akan diakhiri dengan beriman kepada Allah atau sebaliknya.


Sabda Rasulullah: 


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَعْمَلُ الزَّمَنَ الطَّوِيلَ بِعَمَلِ أَهْلِ النَّارِ ثُمَّ يُخْتَمُ لَهُ عَمَلُهُ بِعَمَلِ أَهْلِ الْجَنَّةِ


Maksudnya:"Dari Abu Hurairah bahawa Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam telah bersabda: "Ada orang yang mengamalkan amalan ahli syurga pada waktu yang sangat lama, lalu ia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli neraka. Ada pula orang yang mengerjakan amalan ahli neraka pada waktu yang sangat lama, tetapi kemudian ia menutup akhir hidupnya dengan amalan ahli syurga". Riwayat Muslim(4791)


Maka muhasabahlah diri sendiri kerana di akhirat nanti kita hanya akan mengatakan diriku diriku. Sedangkan di atas muka bumi kita sibuk akan diri orang lain sehingga kita lupa akan diri kita sendiri.


Terdapat petunjuk daripada Nabi Sallallahu'alaihiwasallam satu doa yang diajar oleh Nabi Sallallahu'alaihiwasallam apabila melihat orang yang diuji.


Daripada Abu Hurairah RA, bahawa Nabi Sallallahu'alaihiwasallam pernah bersabda:


مَنْ رَأَى مُبْتَلًى، فَقَالَ: الحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي عَافَانِي مِمَّا ابْتَلَاكَ بِهِ، وَفَضَّلَنِي عَلَى كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقَ تَفْضِيلًا، لَمْ يُصِبْهُ ذَلِكَ البَلَاءُ


Maksudnya: Barangsiapa yang melihat seseorang yang diuji, maka katakanlah: “Segala puji bagi Allah yang telah menyelamatkan aku daripada sesuatu yang Allah berikan sebagai ujian kepadamu dan Allah telah memberikan kemuliaan kepadaku melebihi kebanyakan orang.” Maka dia tidak akan ditimpa musibah". Riwayat al-Tirmizi (3432). Imam al-Tirmizi menilai hadith ini sebagai hasan gharib.


Di samping itu, Imam al-Nawawi ada menyatakan berkaitan hadith ini di dalam kitabnya bahawa para ulama menganjurkan agar doa ini dibaca perlahan yang hanya didengari oleh dirinya sahaja tanpa didengari oleh orang yang diuji agar agar tidak menyakiti perasaannya melainkan ujian tersebut adalah maksiat (pelaku maksiat) maka tidak menjadi kesalahan untuk kita menguatkan bacaan doa (ucapan) sekiranya tidak mendatangkan mudharat kepadanya. Lihat: al-Azkar, 303


Antara hikmah dibenarkan untuk menguatkan ucapan atau doa ini bagi pelaku maksiat adalah agar pelaku maksiat tersebut terkesan dengan doa itu apabila mendengarnya, lalu dengan sebab itu dia akan meninggalkan perbuatan tersebut.




Wednesday, June 14, 2023

Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Keutamaan Menuntut Ilmu Agama

Keperluan pada ilmu adalah lebih besar dibandingkan dengan keperluan kepada makanan dan minuman, sebab kemampuan menyempurnakan urusan agama dan dunia bergantung pada ilmu. Imam Ahmad mengatakan, “Manusia lebih memerlukan ilmu daripada makanan dan minuman. Kerana makanan dan minuman hanya diperlukan dua atau tiga kali sehari, sedangkan ilmu diperlukan di setiap waktu”.


Apa yang dimaksudkan dengan kata ilmu di sini ini adalah ilmu syar’i. Iaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajipannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifat-Nya, hak apa saja yang wajib dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan” (Fathul Baari, 1/92).


Ilmu agama adalah kunci segala kebaikan. Ilmu agama merupakan sarana untuk menunaikan apa yang Allah wajibkan pada kita. Tidak sempurna keimanan dan tidak sempurna pula amal kecuali dengan ilmu agama. Dengan ilmu agama Allah disembah, dengannya hak Allah ditunaikan, dan dengan ilmu agama pula agama-Nya disebarkan.


Seorang muslim tidaklah cukup hanya dengan menyatakan keislamannya tanpa berusaha untuk memahami Islam dan mengamalkannya. Pernyataannya mesti dibuktikan dengan melaksanakan kesan dari Islam. Dan untuk melaksanakan kesan-kesan dari pengakuan bahawa kita sudah Islam, itu memerlukan ilmu.


عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ يَرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ


Maksudnya:"Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)". Riwayat al-Bukhari (2948) dan Muslim (1037).


Penjelasan :

Hadith yang mulia ini menunjukkan agongnya kedudukan ilmu agama dan keutamaan yang besar bagi orang yang mempelajarinya.


Imam an-Nawawi rahimahullah berkata: “Hadith ini menunjukkan keutamaan ilmu (agama) dan keutamaan mempelajarinya, serta anjuran untuk menuntut ilmu". Lihat Syarah Sahih Muslim (7/128).


Memahami petunjuk Allah Azza wa Jalla dan Rasul-Nya Sallallahu‘alaihiwasallam dengan benar merupakan penuntun bagi manusia untuk mencapai darjah takwa kepada Allah Azza wa Jalla. 

Lihat kitab Syarah Sahih Muslim (7/128)


Imam Ibnu Hajar al-‘Asqalani rahimahullah berkata: “Dalam hadith ini terdapat keterangan yang jelas tentang keutamaan orang-orang yang berilmu di atas semua manusia, dan keutamaan mempelajari ilmu agama di atas ilmu-ilmu lainnya". Lihat Fathul Baari (1/165).


Orang yang tidak memiliki keinginan untuk mempelajari ilmu agama akan terhalangi untuk mendapatkan kebaikan dari Allah Azza wa Jalla. Lihat kitab Fathul Baari (1/165)


Dari  Anas bin Malik radhiyallahu Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ


Maksudnya:"Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim". Riwayat Ibnu Majah (224).


Menuntut ilmu itu wajib bagi Muslim dan  Muslimah. Ketika turun perintah Allah yang mewajibkan suatu hal, sebagai muslim yang mesti kita lakukan adalah سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا, kami dengar dan kami taat. Selaras dengan firman Allah Subhanahuwata ‘ala,


 إِنَّمَا كَانَ قَوْلَ الْمُؤْمِنِينَ إِذَا دُعُوا إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ لِيَحْكُمَ بَيْنَهُمْ أَنْ يَقُولُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ


Maksudnya:"Sesungguhnya ucapan orang-orang yang beriman apabila diajak untuk kembali kepada Allah dan Rasul-Nya agar Rasul itu memberikan keputusan hukum di antara mereka hanyalah dengan mengatakan, “Kami mendengar dan kami taat”. Dan hanya merekalah orang-orang yang berbahagia.” (QS. An-Nuur [24]: 51).


Sebagaimana kita memperuntukan waktu kita untuk solat. Apabila jam telah menunjukkan waktu solat pasti kita akan meluangkan waktu untuk solat walaupun  kita sedang bekerja dan pekerjaan kita masih banyak. Kita akan tetap meninggalkan segala aktiviti kita dan segera mengerjakan solat. Maka begitulah sebaiknya yang semestinya kita lakukan dengan hal menuntut ilmu.


Antara kelebihan yang dijelaskan di dalam al-Qur'an dan hadith Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bagi orang-orang yang menuntut ilmu ini, 


Daripada Abu Hurairah RA, bahawa Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا، سَهَّلَ اللهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ، وَمَا اجْتَمَعَ قَوْمٌ فِي بَيْتٍ مِنْ بُيُوتِ اللهِ، يَتْلُونَ كِتَابَ اللهِ، وَيَتَدَارَسُونَهُ بَيْنَهُمْ، إِلَّا نَزَلَتْ عَلَيْهِمِ السَّكِينَةُ، وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ وَحَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ، وَذَكَرَهُمُ اللهُ فِيمَنْ عِنْدَهُ


Maksudnya: “Barangsiapa yang menempuh satu jalan untuk menuntut ilmu maka Allah Subhanahuwata'ala akan memudahkan baginya jalan untuk ke Syurga. Tidaklah satu kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya sesama mereka melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), diliputi ke atas mereka rahmat dan dinaungi oleh malaikat serta Allah SWT akan menyebut mereka pada malaikat yang berada di sisi-Nya”. Riwayat Muslim (4867)


Makna Hadith:


Di dalam hadith ini mengandungi pelbagai jenis ilmu, kaedah-kaedah dan adab-adab. Antaranya ialah ia menceritakan akan kelebihan keluar menuntut ilmu dan sentiasa sibuk dengan ilmu syar’ie dengan syarat ia niatnya adalah kerana Allah Subhanahuwata'ala. Walaupun syarat ini merupakan syarat untuk setiap ibadat tetapi telah menjadi adat para ulama’ mengikat masalah ini dengannya kerana sebahagian manusia mengambil mudah dan lalai terhadapnya terutama golongan permulaan dan seumpama dengan mereka. Selain itu juga, maksud sabda Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam “Tidaklah satu kumpulan berkumpul di dalam sebuah rumah di antara rumah-rumah Allah, membaca kitab Allah (al-Qur’an) dan mempelajarinya sesama mereka melainkan akan turun kepada mereka sakinah (ketenangan), diliputi ke atas mereka rahmat” adalah dikatakan yang dimaksudkan dengan sakinah di sini adalah rahmat. Ini yang dipilih oleh al-Qadhi ‘Iyadh tetapi ia adalah dhaif disebabkan rahmat telah di’athafkan dengan sakinah. Dikatakan juga ia (yang dimaksudkan dengan sakinah) adalah thoma’ninah dan kemuliaan. Ini adalah lebih baik dan ia juga mempunyai dalil atau petunjuk akan kelebihan berkumpul untuk membaca al-Qur’an di dalam masjid. [Lihat: al-Minhaj Syarh Sahih Muslim, 17/21]


Ilmu adalah warisan Para Nabi,


Hal ini sebagaimana dinyatakan oleh hadith,


اَلْعُلَمَاءُ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْنَارًا وَلَا دِرْهَامًا، وَلَكِنْ وَرَّثُوْا الْعِلْمَ، فَمَنْ أَخَذَهُ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ


Maksudnya:"Para ulama adalah pewaris para nabi. Sesungguhnya para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Maka dari itu, barang siapa mengambilnya, ia telah mengambil bahagian yang cukup". Riwayat Abu Daud, at-Tirmizi dan Ibnu Majah.


Ilmu akan kekal dan akan bermunafaat bagi pemiliknya walaupun dia telah meninggal dunia.


Disebutkan dalam haditth


إِذَا مَاتَ الْإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إِلَّا مِنْ ثَلَاثٍ: صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُ


Maksudnya:"Jika seorang manusia meninggal, terputuslah amalnya, kecuali dari tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang bermunafaat, atau anak saleh yang berdoa untuknya". Riwayat Muslim.


Allah tidak memerintahkan Nabi-Nya meminta tambahan selain dari tambahan Ilmu.


 Allah Subhanahuwata'ala berfirman:


وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا


Maksudnya:"Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu“. Thaaha ayat 114.


Orang yang paling takut pada Allah adalah orang yang berilmu.


Sebagaimana  Allah Subhanahuwata'ala,


إِنَّمَا يَخْشَى اللَّهَ مِنْ عِبَادِهِ الْعُلَمَاءُ


Maksudnya:"Sesungguhnya yang takut kepada Allah di antara hamba-hamba-Nya, hanyalah ulama". Fathir ayat 28.


Ibnu Katsir rahimahullah berkata, “Sesungguhnya yang paling takut pada Allah dengan takut yang sebenarnya adalah para ulama (orang yang berilmu). Kerana semakin seseorang mengenal Allah Yang Maha Agong, Maha Berkuasa, Maha Mengetahui dan Dia disifati dengan sifat dan nama yang sempurna dan baik, lalu ia mengenal Allah lebih sempurna, maka ia akan lebih memiliki sifat takut dan akan terus bertambah sifat takutnya.” Lihat Tafsir Al-Qur’an Al-‘Azhim, 6: 308.


Para ulama berkata,


من كان بالله اعرف كان لله اخوف


Maksudnya:"Siapa yang paling mengenal Allah, dialah yang paling takut pada Allah". 


Orang yang berilmu Allah akan angkat darjahnya,


 Allah Subhanahuwata’ala berfirman:


 …يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ..


Maksudnya:"…Nescaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat…” Al-Mujadilah ayat 11.


Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


وَقَالُوا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ أَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِي أَصْحَابِ السَّعِيرِ


Maksudnya:"Dan mereka berkata: “Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu) nescaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala".Al-Mulk ayat 10.


Allah telah memberikan banyak kenikmatan, jika tidak kita gunakan untuk mempelajari firman-firman-Nya maka kita akan menjadi salah seorang dari orang yang Allah abadikan dalam surat Al-Mulk ayat 10 di atas. Semoga Allah memberikah taufiq dan hidayah-Nya kepada kita untuk menuntut ilmu dan mengamalkannya sesuai dengan tuntunan Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam . Aamiin.




 




Friday, June 9, 2023

Setiap Muslim wajib mempelajari Ilmu Agama

Setiap Muslim wajib mempelajari Ilmu Agama

Fenomena yang sangat jelas melanda umat Islam  pada zaman ini adalah rendahnya semangat dan motivasi diri untuk menuntut ilmu agama. Ilmu agama seakan menjadi suatu hal yang remeh dan terpinggir bagi kebanyakkan kaum muslimin. Berbeza halnya dengan semangat untuk mencari ilmu dunia sehingga seseorang itu sanggup  mengorbankan apa saja untuk meraihnya. 


Seseorang pelajar itu begitu bersabar menempuh pendidikan mulai dari awal di sekolah rendah sehingga kepuncaknya di pengajian tinggi demi mencari pekerjaan dan penghidupan yang baik. Kebanyakkan umur, waktu dan harta dihabiskan untuk menuntut ilmu dunia di bangku sekolah. Bagi yang menuntut ilmu sehingga ke luar negeri, mereka mengorbankan segala-galanya demi meraih ilmu dunia, jauh dari keluarga, jauh dari kampung halaman, dan sanggup mengorbankan saat-saat yang indah yang dapat dinikmati di kampung halaman. 


Persoalannya, bagaimana pula dengan ilmu agama? 


Adakah ada terlintas dalam benak kita untuk serius mempelajarinya atau pun mungkin tidak?. Apatahlagi sehingga sampai mengorbankan waktu, harta dan tenaga untuk meraihnya. 


Tulisan ini adalah bermaksud untuk mengingatkan diri sendiri dan para pembaca bahawa menuntut ilmu agama adalah kewajipan yang melekat atas setiap diri kita, walau dari apa pun latar belakang profesi dan pekerjaan kita.


Janganlah kita hanya menjadi orang yang sangat pandai tentang selok-belok ilmu dunia dengan segala permasalahannya, namun lalai terhadap ilmu agama. Hendaknya kita merenungkan firman Allah Subhanahuwata’ala,


يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ


Maksudnya:"Mereka hanya mengetahui yang lahir (saja) dari kehidupan dunia, sedangkan mereka lalai tentang (kehidupan) akhirat”. Ar-Ruum ayat  7.


Sebahagian di antara kita mungkin menganggap bahawa hukum menuntut ilmu agama adalah sebatas harus atau sunat sahaja, yang diberi pahala bagi yang melakukannya dan tidak berdosa bagi siapa saja yang meninggalkannya. Padahal, terdapat beberapa keadaan di mana hukum menuntut ilmu agama adalah wajib atau fardhu 'ain keatas setiap muslim sepertimana hukum fardhu 'ain menunaikan solat lima waktu atau puasa dibulan ramadhan sehingga berdosalah setiap orang yang meninggalkannya. Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi Sallallahu'alaihiwasallam bersabda:


طَلَبُ الْعِلْمِ فَرِيْضَةٌ عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ


Maksudnya:“Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim”. Riwayat Ibnu Majah (224),


Dalam hadith ini, Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam dengan tegas menyatakan bahawa menuntut ilmu itu hukumnya wajib atas setiap muslim, bukan bagi sebahagian orang muslim sahaja. Oleh itu, “ilmu” apakah yang dimaksudkan oleh hadits ini? 


Penting untuk diketahui bahawa ketika Allah Subhanahuwata’ala atau Rasul-Nya Muhammad Sallallahu'alaihiwasallam menyebutkan kata “ilmu” saja dalam Al Qur’an atau As-Sunnah, maka ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i atau ilmu agama,

Sabda Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam,


عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ أَبِيْ سُفْيَانَ رضي الله عنه قَالَ: سَمِعْتُ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: مَنْ يَرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِيْ الدِّيْنِ


Maksudnya:"Dari Mu’awiyah bin Abi Sufyan Radhiyallahu anhu yang berkata: “Aku mendengar Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda: Barangsiapa yang Allah kehendaki baginya kebaikan, maka Dia akan memahamkan baginya agama (Islam)". Riwayat al-Bukhari (2948) dan Muslim (1037).


Sebagaimana juga firman Allah Subhanahuwata’ala,

وَقُلْ رَبِّ زِدْنِي عِلْمًا


Maksudnya:"Dan katakanlah,‘Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’“. Thaaha ayat 114.


Ibnu Hajar Al-Asqalani rahimahullah berkata,


( وَقَوْله عَزَّ وَجَلَّ : رَبّ زِدْنِي عِلْمًا ) وَاضِح الدَّلَالَة فِي فَضْل الْعِلْم ؛ لِأَنَّ اللَّه تَعَالَى لَمْ يَأْمُر نَبِيّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِطَلَبِ الِازْدِيَاد مِنْ شَيْء إِلَّا مِنْ الْعِلْم ، وَالْمُرَاد بِالْعِلْمِ الْعِلْم الشَّرْعِيّ الَّذِي يُفِيد مَعْرِفَة مَا يَجِب عَلَى الْمُكَلَّف مِنْ أَمْر عِبَادَاته وَمُعَامَلَاته ، وَالْعِلْم بِاَللَّهِ وَصِفَاته ، وَمَا يَجِب لَهُ مِنْ الْقِيَام بِأَمْرِهِ ، وَتَنْزِيهه عَنْ النَّقَائِض


Maksudnya:"Firman Allah Ta’ala (yang ertinya),’Wahai Rabb-ku, tambahkanlah kepadaku ilmu’ mengandungi dalil yang tegas tentang keutamaan ilmu. Kerana sesungguhnya Allah Ta’ala tidaklah memerintahkan Nabi-Nya Sallallahu‘alaihiwa lsallam untuk meminta tambahan sesuatu kecuali (tambahan) ilmu. Adapun yang dimaksud dengan (kata) ilmu di sini adalah ilmu syar’i. Iaitu ilmu yang akan menjadikan seorang mukallaf mengetahui kewajipannya berupa masalah-masalah ibadah dan muamalah, juga ilmu tentang Allah dan sifat-sifatNya, hak apa saja yang harus dia tunaikan dalam beribadah kepada-Nya, dan mensucikan-Nya dari berbagai kekurangan”. Lihat Fathul Baari, 1/92.


Menuntut ilmu agama juga tidak hanya diwajibkan kepada ustaz atau ulama. Demikian pula kewajipan berdakwah dan memberikan nasihat kepada kebaikan, tidak hanya dikhususkan bagi para ustaz atau para da’i sahaja. Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


فَوَاللَّهِ لأَنْ يَهْدِىَ اللَّهُ بِكَ رَجُلاً خَيْرٌ لَكَ مِنْ أَنْ يَكُونَ لَكَ حُمْرُ النَّعَمِ


Maksudnya:"Demi Allah, jika Allah memberikan petunjuk kepada satu orang saja melalui perantaraanmu, itu lebih baik bagimu dibandingkan dengan unta merah (iaitu unta yang paling bagus dan paling mahal, pen.)". Riwayat Bukhari dan Muslim.


Dan tidak diragukan lagi, bahawa untuk berdakwah adalah sangat memerlukan ilmu dan mesti disertai dengan ilmu. Boleh jadi, kerana keadaan sebahagian orang, mereka tidak terjangkau oleh dakwah para ustaz. Sebagai contoh, berapa ramai saudara kita yang terbaring di rumah sakit dan mereka meninggalkan kewajipan solat? Di sinilah peranan penting tenaga kesihatan, baik itu ia doktor, perawat, atau perawat yang merawat mereka, untuk menasihati dan mengajarkan mereka cara bersuci dan solat ketika sakit.


Setelah kita mengetahui bahawa hukum menuntut ilmu agama adalah wajib, maka apakah kita wajib mempelajari kesemua cabang ilmu dalam agama? 


Jawapannya tidaklah demikian. Kita tidak diwajibkan untuk mempelajari kesemua cabang dalam ilmu agama, seperti ilmu jarh wa ta’dil sehingga kita mengetahui mana riwayat hadith yang boleh diterima dan mana yang ditolak. Demikian pula, kita tidak diwajibkan untuk mempelajari rincian setiap pendapat dan perselisihan ulama di bidang ilmu fiqh. Namun ilmu seperti Ini hanya wajib dipelajari oleh sebahagian orang sebagai fardhu kifayah, iaitu para ulama yang Allah Subhanahuwata’ala berikan kemampuan dan kecerdasan untuk mempelajarinya demi menjaga kemurnian agama.


Sebagai orang awam, sebagaimana yang telah diisyaratkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah di atas, kita “hanya” wajib mempelajari sebahagian dari ilmu agama, iaitu ilmu yang berkaitan dengan ibadah dan muamalah, sehingga kita dapat beribadah kepada Allah Subhanahuwata’ala dengan benar. Kita juga wajib mempelajari ilmu tentang aqidah dan tauhid, sehingga kita menjadi seorang muslim yang beraqidah dan mentauhidkan Allah Subhanahuwata’ala dengan benar dan selamat dari hal-hal yang boleh merosakan aqidah kita atau bahkan membatalkan keislaman kita.


Diantara ilmu yang wajib dipelajari oleh setiap Muslim sebagai fardhu 'ain adalah:

 

1. Mengetahui ilmu tauhid, iaitu ilmu yang membahaskan masalah ketuhanan. Sehingga ia berkeyakinan bahawa Allah Subhanahuwata'ala itu maujud, mempunyai sifat Qadim (kekal), yang akan selalu tetap ada sehingga bila-bila pun serta bersih dari sifat kurang dan mempunyai sifat sempurna.

Seorang muslim juga mesti mengetahui sifat-sifat Allah pada perbahasannya dan  seandainya murid  dapat mengetahui dalil-dalil sifat Allah lebih dari apa yang dijelaskan oleh Al-Quran atau al-sunnah, maka hal itu lebih sempurna.


Ilmu tentang pokok-pokok keimanan, yaitu keimanan kepada Allah Subhanahuwata'ala, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir.


2. Ilmu tentang syariat-syariat Islam atau juga dikenali dengan Ilmu Feqah , iaitu ilmu tentang hukum-hakam amali mukallaf yang bersumber dari sumber yang tetap iaitu Al-Quran atau Al-Sunnah. Ilmu yang khusus sebagai seorang hamba untuk mengetahui dan menghantarkan kepada ketaatan kepada Allah, seperti halnya cara-cara bersuci, solat, dan puasa,haji,zakat dan segala ketaatan yang lain. Kita wajib untuk mempelajari hal-hal yang berkaitan dengan ibadah-ibadah tersebut, misalnya tentang syarat, rukun dan pembatalnya.


Ilmu yang berkaitan dengan urusan yang terjadi diantara seseorang dengan orang lain secara khusus seperti isteri, anak, dan keluarga dekatnya atau dengan orang lain secara umum. Ilmu yang wajib menurut jenis ini berbeza-beza sesuai dengan perbezaan keadaan dan kedudukan seseorang. Misalnya, seorang pedagang wajib mempelajari hukum-hukum yang berkaitan dengan perdagangan atau transaksi jual-beli. Ilmu seperti ini berbeza-beza sesuai dengan keadaan dan keperluan masing-masing.


Ilmu tentang perkara yang diharamkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Sebagaimana firman Allah Subhanahuwata’ala,


ö قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ


Maksudnya:"Katakanlah,’Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak mahupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui".  Al-A’raf ayat  33.


Maka wajib bagi setiap muslim  mempelajari larangan-larangan Allah Subhanahuwata’ala, seperti haramnya zina, riba, minum khamr, dan sebagainya, sehingga setiap Muslim tidak melanggar larangan-larangan tersebut kerana kejahilan diri.


3. Ilmu dan amal berhubung kebersihan dan penyucian jiwa bagi mencapai maqam yang tertinggi dari sudut ruhiyyah dan mencapai redha Allah Subhanahuwatsla'ala. 


Ilmu Ini disebut dengan Ilmu tasawwuf, ihsan atau tazkiyyatunnafs,


Intipati utama ilmu ini adalah adalah sebagaimana sabda Nabi Sallallahu'alaihiwasallam,


أَنْ تَعْبُدَ اللَّهَ كَأَنَّكَ تَرَاهُ، فَإِنْ لَمْ تَكُنْ تَرَاهُ فَإِنَّهُ يَرَاكَ


Maksudnya: “Engkau beribadah kepada Allah seaakan akan Engkau melihat-Nya, dan jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu.”


Mengenai hadith di atas, Imam Tajuddin al-Subki berkata, “… Tasawwuf diisyaratkan dengan ihsan. Selain ilmu-ilmu itu (Aqidah, fiqh dan tasawwuf), kalau ia tidak kembali kepada ilmu-ilmu tersebut (Islam, Iman dan Ihsan), ia adalah di luar syariah.” (Lihat Tabaqat al-Syafi’iyah al-Kubra, 1/117)


Syeikh Ahmad Zarruq mendefinisikan tasawwuf sebagai: “Ilmu yang bertujuan untuk membaiki hati dan memfokuskannya hanya untuk Allah semata-mata. Fiqh adalah ilmu yang bertujuan memperbaiki amal, memelihara aturan dan menampakkan hikmah dari setiap hukum. Sedangkan ilmu tauhid adalah ilmu yang bertujuan mewujudkan dalil-dalil dan menghiasi iman dengan keyakinan, sebagaimana ilmu perubatan untuk memelihara adan dan ilmu nahu untuk memelihara lisan.” (Lihat Qawa’id al-Tasawwuf, m. 6)


Ibn ‘Ajibah menyatakan: “Ia adalah ilmu yang diketahui dengannya jalan untuk mencapai kesempurnaan batin ke hadrat Raja bagi segala Raja, menyucikan batin dari segala kekejian, mengisikannya dengan pelbagai kelebihan. Awalnya adalah ilmu, pertengahannya adalah amal, akhirnya adalah kurniaan Allah SWT” (Lihat Ma’arij al-Tashawwuf ila Haqa’iq al-Tasawwuf, m. 4)


Setelah kita mengetahui bahawa hukum menuntut ilmu agama adalah wajib, maka tidaklah sayugianya kita mengabaikanya.


Muhasabah Diri

Muhasabah Diri Muhasabah diri (daripada perkataan Arab; محاسبة) ialah amalan menilai, menghisab, dan memeriksa kembali diri sendiri, termasu...