Thursday, April 13, 2023

Takut dosa

Takut dosa

Dosa ialah perlakuan maksiat yang dilakukan oleh seseorang.


Imam al-Qurthubi rahimahullah berkata, “Dosa ialah perbuatan yang menyebabkan pelakunya layak mendapatkan celaan". Lihat Tafsir al-Qurthubi II/20.


Ibnu Hajar al-Haitami berkata, “اَلإِثْمُ (dosa) ialah satu kata yang mencakupi  setiap perbuatan buruk dan keji,baik yang besar mahupun yang kecil.”


Sepertimana Firman Allah Subhanahuwata'ala,


وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ 


“…Dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan permusuhan…”. Al-Maidah ayat 2.


Dapat disimpulkan bahawa dosa ialah balasan buruk kerana melakukan atau melanggar larangan Allah Subhanahuwata'ala dan meninggalkan suruhan-Nya. Orang yang akil baligh yang melanggar hukum Allah digelar ‘Asi


Jenis-jenis dosa


Pertama: Dosa besar


Dosa besar adalah dosa yang dalam dalil disebut dengan hukuman (ancaman) khusus di dunia atau di akhirat, atau disebut sebagai dosa yang besar.


Allah Subhanahuwata'ala  berfirman:


إِن تَجْتَنِبُوا كَبَائِرَ مَا تُنْهَوْنَ عَنْهُ نُكَفِّرْ عَنكُمْ سَيِّئَاتِكُمْ وَنُدْخِلْكُم مُّدْخَلًا كَرِيمًا


Maksudnya: Jika kamu menjauhkan dosa-dosa besar yang dilarang kamu melakukannya, Kami akan ampunkan kesalahan-kesalahan (dosa kecil) kamu, dan kami akan masukkan kamu ke tempat yang mulia (syurga)". Al-Nisa’ ayat 31.


Ibnu Abbas R.Anhuma dalam menjelaskan ayat di atas berkata:


الكَبِيْرَةُ كُلُّ ذَنْبٍ خَتَمَهُ اللهُ بِنَارٍ، أَوْ غَضَبٍ، أَوْ لَعْنَةٍ، أَوْ عَذَابٍ


Maksudnya: “Dosa besar adalah yang Allah akhiri dengan ancaman neraka, atau kemurkaan, atau laknat atau azab seksa.” (Lihat Jami’ al-Bayan ‘an Ta’wil Ay al-Quran, 5/59 dan Tafsir al-Quran al-‘Azim, 2/282)


Kedua: Dosa kecil


Dosa kecil adalah dosa yang dalam dalil tidak ada hukuman atau ancaman khusus di dunia atau di akhirat, atau tidak disebut sebagai dosa yang besar.


Contoh dosa kecil


Menghadapnya seseorang itu ke arah kiblat saat buang air kecil mahupun buang air besar, sedangkan antara dia dengan kiblat tidak ada penghalang yang dekat.


Dari Abu Ayyub Al-Anshari radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


إذا أتيتُم الغائِطَ فلا تستقبِلوا القِبلةَ، ولا تَستَدبِروها ببولٍ ولا غائِطٍ، ولكِن شرِّقوا أو غَرِّبوا


Maksudnya:"Jika kalian berada di tempat buang air, maka janganlah menghadap kiblat dan jangan membelakanginya saat buang air kecil mahupun buang air besar, tetapi menghadaplah ke timur atau ke barat.” Riwayat Bukhari dan Muslim.


Dalam hadith Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam juga turut menyebut berkenaan adanya pembahagian dosa besar dan dosa kecil. Sabda Baginda Sallallahu‘alaihiwasallam,


الصَّلاةُ الخمسُ والجمعةُ إلى الجمعةِ كفَّارةٌ لما بينَهنَّ ما لم تُغشَ الْكبائرُ


Maksudnya: “Solat lima waktu dan solat Jumaat ke solat Jum’at seterusnya, menghapuskan dosa-dosa di antara keduanya, selama mana tidak melakukan dosa besar".Riwayat Muslim (233)


Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


وَكُلُّ صَغِيْرٍ وَّكَبِيْرٍ مُّسْتَطَرٌ


Maksudnya:"Dan segala (dosa) yang kecil maupun yang besar (semuanya) tertulis". Al-Qomar ayat 53.


Perlakuan dosa adalah sesuatu yang bakal mengundang malapetaka dan kemurkaan Allah Subhanahuwata'ala.


Firman Allah Subhanahuwata'ala dalam surah Al-Ankabut ayat 40 mengingatkan kita tentang ancaman ini,


فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ ۖ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا ۚ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَٰكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ


Maksudnya:"Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang Kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.


Setiap orang beriman pasti akan bimbang dan sangat takut melakukan kemaksiatan apabila membaca ayat al-Quran ancaman daripada Allah Subhanahuwata'ala.


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


Maksudnya:"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan..” (Surah At-Tahriim, ayat 6)


Penghuni neraka kelak, tidak akan mati biarpun tubuh badan mereka sentiasa dibakar, dicincang, dipotong atau dirosakkan.


عَنْ أَبِي سَعِيدٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَّا أَهْلُ النَّارِ الَّذِينَ هُمْ أَهْلُهَا فَإِنَّهُمْ لَا يَمُوتُونَ فِيهَا وَلَا يَحْيَوْنَ


Maksudnya:"Dari Abu Sa'id dia berkata, "Rasulullah ﷺ bersabda, "Adapun penduduk neraka yang mana mereka adalah penduduknya, maka mereka tidak akan mati di dalamnya dan tidak pula hidup...". Riwayat Muslim(271)


Dalam Surah Al-Furqan, ayat 65-66, iaitu orang-orang yang meskipun mereka sudah bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada Allah dan mereka takut kepada Allah, namun mereka tetap berdoa memohon kepada-Nya agar menyelamatkan mereka dari siksaan Jahanam.


وَالَّذِينَ يَقُولُونَ رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا .إِنَّهَا سَاءَتْ مُسْتَقَرًّا وَمُقَامًا


Maksudnya:"Dan orang-orang yang berkata: "Ya Tuhan kami, jauhkan azab jahannam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.Sesungguhnya jahannam itu seburuk-buruk tempat menetap dan tempat kediaman.


Nabi Muhammad Salallahu'alaihiwasallam pernah bercerita mengenai kedalaman api neraka.


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ كُنَّا مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذْ سَمِعَ وَجْبَةً فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَدْرُونَ مَا هَذَا قَالَ قُلْنَا اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَعْلَمُ قَالَ هَذَا حَجَرٌ رُمِيَ بِهِ فِي النَّارِ مُنْذُ سَبْعِينَ خَرِيفًا فَهُوَ يَهْوِي فِي النَّارِ الْآنَ حَتَّى انْتَهَى إِلَى قَعْرِهَا


Maksudnya:"Dari Abu Hurairah berkata, Kami bersama Nabi ﷺ tiba-tiba beliau mendengar suara sesuatu yang jatuh berdebuk, Nabi ﷺ bertanya, "Tahukah kalian apa itu?" kami menjawab: Allah dan rasul-Nya lebih tahu. Beliau bersabda, "Itu adalah batu yang dilemparkan ke neraka sejak tujuh puluh tahun, ia jatuh ke neraka sekarang hingga mencapai dasarnya". Riwayat Muslim (5078)


Hadith sahih itu menunjukkan saiz neraka sangat besar dan dalam.


Bayangkan, golongan yang mendapat seringan-ringan seksaan di dalam api neraka kelak adalah seorang lelaki yang diberi pakai kasut atau selipar daripada api neraka.


عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ أَهْوَنُ أَهْلِ النَّارِ عَذَابًا أَبُو طَالِبٍ وَهُوَ مُنْتَعِلٌ بِنَعْلَيْنِ يَغْلِي مِنْهُمَا دِمَاغُهُ


Maksudnya:"Dari Ibnu Abbas bahwa Rasulullah ﷺ bersabda, "Penduduk neraka yang paling ringan siksanya adalah Abu Thalib, dia memakai kedua sandal sementara otaknya mendidih karena panasnya". Riwayat Muslim (312)


Merasa takut dengan dosa yang pernah dilakukan, adalah termasuk tanda benarnya taubat seorang hamba atau baiknya iman yang ada di dalam hatinya. Dan juga diharapkan perasaan tersebut lebih mendorong kepada hal yang lebih baik dan semakin dekat dengan Allah dan semakin memperbanyak taubat kepada-Nya.


Sebagaimana hadith dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda :


لَوْ يَعْلَمُ الْمُؤمِنُ مَا عِنْدَ الله مِنَ العُقُوبَةِ ، مَا طَمِعَ بِجَنَّتِهِ أَحَدٌ ، وَلَوْ يَعْلَمُ الكَافِرُ مَا عِنْدَ الله مِنَ الرَّحْمَةِ ، مَا قَنَطَ مِنْ جَنَّتِهِ أحَدٌ


Maksudnya:"Seandainya seorang Mukmin mengetahui azab yang ada di sisi Allah, nescaya tidak ada seorang pun yang akan terlalu bercita-cita untuk meraih syurga-Nya. Dan seandainya orang kafir mengetahui kasih sayang Allah, nescaya tidak ada seorang pun yang akan berputus asa dari meraih syurga-Nya.” Muslim(4948)


Sesungguhnya azab Allah lebih ditakuti berbanding dengan kenikmatan syurga Allah.


Begitu juga semua orang masuk syurga adalah dengan rahmat Allah Subhanahuwata'ala, bukan sebab amalannya. 


Abdullah bin Mas’ud radhiallahu’anhu berkata


إِنَّ الْمُؤْمِنَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَأَنَّهُ قَاعِدٌ تَحْتَ جَبَلٍ يَخَافُ أَنْ يَقَعَ عَلَيْهِ وَإِنَّ الْفَاجِرَ يَرَى ذُنُوبَهُ كَذُبَابٍ مَرَّ عَلَى أَنْفِهِ فَقَالَ بِهِ هَكَذَا قَالَ أَبُو شِهَابٍ بِيَدِهِ فَوْقَ أَنْفِهِ…..


Maksudnya:"Sesungguhnya orang mukmin melihat dosa-dosanya seperti ia duduk di pangkal/kaki gunung, ia khawatir gunung itu akan menimpanya, sedangkan orang fajir (selalu berbuat dosa) melihat dosa-dosanya seperti lalat yang menempel di batang hidungnya, kemudian ia mengusirnya seperti ini lalu terbang." Abu Syihab mengisyaratkan dengan tangannya di atas hidungnya". Bukhari (5833)


Al-Quran dengan jelas menyatakan bahawa kita hendaklah melakukan sebanyak mungkin kebaikan kerana ia boleh menghapuskan dosa-dosa kecil yang kita lakukan. Ini bererti amal kebaikan bakal menyelamatkan kita daripada azab dan seksaan Allah Subhanahuwata'ala. Firman Allah dalam surah Hud ayat 114 :


وَأَقِمِ الصَّلَاةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِنَ اللَّيْلِ ۚ إِنَّ الْحَسَنَاتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّئَاتِ ۚ ذَٰلِكَ ذِكْرَىٰ لِلذَّاكِرِينَ


Maksudnya:"Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang-orang yang ingat.


Marilah sama-sama kita berdoa kepada Allah agar diampuni dosa kita dan juga mereka yang terdahulu daripada kita.


رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلِإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالْإِيمَانِ وَلَا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلًّا لِّلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَءُوفٌ رَّحِيمٌ


Maksudnya: "Wahai Tuhan Kami! Ampunkanlah dosa kami dan dosa saudara-saudara kami yang mendahului kami dalam iman, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati perasaan hasad dengki dan dendam terhadap orang-orang yang beriman. Wahai Tuhan kami! Sesungguhnya Engkau Amat Melimpah Belas kasihan dan Rahmat-Mu". Surah al-Hasyr ayat 10.


Semoga Allah Subhanahuwata'ala menjauhkan kita daripada segala dosa besar mahupun dosa kecil serta mengurniakan petunjuk dan kekuatan dalam melaksankan titah perintah-Nya. آمين.


Tuesday, April 11, 2023

Tanggungjawab Muslim di dalam bulan Ramadhan dan erti puasa.

Tanggungjawab Muslim di dalam bulan Ramadhan dan erti puasa.

Dalam bulan Ramadhan, setiap Muslim mempunyai beberapa tanggungjawab syar’i. Tanggungjawab-tanggungjawab ini telah dijelaskan oleh Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam melalui sunnah qauliyah (perkataan) beliau juga Sunnah fi'liyah beliau Sallallahu‘alaihiwasallam. Kerana bulan Ramadhan merupakan musim limpahan kebaikan. Nikmat-nikmat Allah Subhanahuwata'ala yang dianugerahkan kepada  hamba-Nya pada bulan ini lebih banyak dibandingkan dengan bulan-bulan yang lain. Lihat Fathul Bari 1/31


Tanggungjawab-tanggungjawab ini mencakupi banyak persoalan hukum syar’i, yang meliputi seluruh amalan selama satu bulan yang penuh dengan amal kebaikan dan ketaqwaan.


Pertama : الصيام (Puasa).

Secara umum, الصيام (puasa) mempunyai keutamaan yang besar. Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda dalam hadith qudsi yang diriwayatkan oleh Imam Muslim rahimahullah.


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ هُوَ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ فَوَالَّذِي نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لَخُلْفَةُ فَمِ الصَّائِمِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ


Maksudnya:"Semua amal perbuatan bani Adam adalah kepunyaan bani Adam sendiri, kecuali puasa. Puasa itu kepunyaanKu, dan Aku yang akan memberikan balasan. Maka, demi Zat yang nyawa Muhammad ada ditanganNya, sungguh di sisi Allah, aroma mulut orang yang sedang berpuasa itu lebih harum daripada minyak kasturi". Muslim(1942)


Berkenaan lafaz ‘فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ’ (Puasa itu untuk-Ku dan Aku-lah yang akan membalasnya), Al-Hafiz Ibn Hajar menukilkan bahawa al-Baidhawi berkata: Terdapat dua perkara yang menjadi sebab mengapa ibadah puasa diistimewakan dengan kelebihan seperti ini.


Pertama: Kerana ibadah-ibadah selainnya dapat dilihat oleh manusia, berbeza dengan puasa kerana ia merupakan rahsia antara hamba dan Allah Subhanahuwata'ala. Dia melakukannya dengan ikhlas dan mengerjakannya kerana mengharapkan redha-Nya. Hal ini ditunjukkan menerusi firman Allah Subhanahuwata'ala dalam sabda Baginda Sallallahu‘alaihiwasallam, ‘الصَّوْمُ لِي’ (Sesungguhnya puasa itu adalah untuk-Ku).


Kedua: Kerana seluruh perbuatan baik dilakukan dengan cara mengeluarkan harta atau menggunakan anggota fizikal. Manakala puasa mencakupi perbuatan mengekang hawa nafsu dan menjadikan fizikal menjadi lemah. Dalam ibadah puasa, terdapat unsur kesabaran menahan rasa lapar, haus dan meninggalkan syahwat. Hal ini ditunjukkan menerusi firman Allah Subhanahuwata'ala dalam sabda Baginda Sallallahu‘alaihiwasallam “Dia meninggalkan syahwat kerana-Ku". Lihat Fath al-Bari, 4/108


Ini adalah berdasarkan hadith Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam,


كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِي لِلصَّائِمِ فَرْحَتَانِ فَرْحَةٌ عِنْدَ فِطْرِهِ وَفَرْحَةٌ عِنْدَ لِقَاءِ رَبِّهِ ‏.‏ وَلَخُلُوفُ فِيهِ أَطْيَبُ عِنْدَ اللَّهِ مِنْ رِيحِ الْمِسْكِ


Maksudnya: Setiap amalan baik anak Adam akan digandakan dengan sepuluh seumpamanya sehingga tujuh ratus gandaan. Allah Subhanahuwata'ala telah berfirman: Kecuali puasa, kerana aku yang akan mengganjarinya, buat mereka yang meninggalkan syahwat, makan minumnya kerana Aku. Bagi yang berpuasa itu akan mendapat dua kegembiraan, kegembiraan ketika berbuka dan kegembiraan ketika bertemu dengan tuhannya dan bau mulut mereka yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau kasturi. Riwayat Muslim (1151


Disamping keutamaan yang bersifat umum ini, ada pula keutamaan bersifat khusus yang melekat pada bulan Ramadhan, berdasarkan sabda Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam,


عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Dari Abu Hurairah RA berkata, Rasulullah Sallahu'alaihiwasallam bersabda: “Barang siapa yang berpuasa Ramadhan kerana iman dan penuh keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Bukhari (37).


Dan sabda Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam,


صَوْمُ شَهْرِ الصَّبْرِ وَثَلَاثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ صَوْمُ الدَّهْرِ


Maksudnya:"Satu bulan sabar (berpuasa Ramadhan) ditambah tiga hari puasa pada setiap bulan, sama dengan puasa satu tahun". Ahmad (8626).


Yang dimaksud dengan bulan sabar yaitu bulan Ramadhan. Lihat At-Tamhid 19/61


Ibnu Abdil Barr rahimahullah (Lihat At-Tamhid) menjelaskan,"Dalam kamus Lisanul Arab, صوم juga bermakna sabar. Allah Subhanahuwata'ala berfirman.


إِنَّمَا يُوَفَّى الصَّابِرُونَ أَجْرَهُمْ بِغَيْرِ حِسَابٍ


Maksudnya:"Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas”. Al-Zumar ayat 10.


Puasa الصوم dari sudut bahasa ialah الإمساك iaitu menahan dari melakukan sesuatu.


Adalah orang arab apabila mereka mengatakan perkataan imsak ertinya ialah menahan diri.


Berkata Imam Al-Mawardi:


أَمَّا الصَّوْمُ فِي اللُّغَةِ: فَهُوَ الْإِمْسَاكُ يُقَالُ صَامَ فُلَانٌ بِمَعْنَى أَمْسَكَ عَنِ الْكَلَامِ قَالَ اللَّهُ تَعَالَى {إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَنِ صَوْماً) {مريم: 26) أَيْ: صَوْمًا وَسُكُوتًا


Ertinya: “Adapun puasa pada sisi bahasa maka iaitu bererti menahan. Dikatakan seorang itu puasa ertinya menahan dari berkata-kata. Telah berfirman Allah Taala: Sungguhnya aku telah bernazar bagi Tuhan akan berpuasa ertinya akan diam dari berkata-kata.”


Dan erti puasa dari sudut syarak ialah:


الإمساك عن المفطر من طلوع الفجر إلى غروب الشمس بنية


Ertinya: “Menahan dari perkara yang membatalkan puasa dari masa terbit fajar hingga masa tenggelam matahari dengan berniat.”


Berkata Syeikh Zakaria Al-Ansari:


إمْسَاكُ الْمُسْلِمِ الْمُمَيِّزِ عَنْ الْمُفْطِرَاتِ مِنْ أَوَّلِ النَّهَارِ إلَى آخِرِهِ بِالنِّيَّةِ سَالِمًا مِنْ الْحَيْضِ وَالنِّفَاسِ وَالْوِلَادَةِ وَمِنْ الْإِغْمَاءِ وَالسُّكْرِ فِي بَعْضِهِ


Ertinya: “Menahan diri oleh seorang Islam yang telah mumayyiz dari segala yang membatalkan puasa dari awal hari hingga akhirnya dengan niat dan keadaannya selamat dari haid dan nifas dan wiladah dan dari pengsan dan tidak sedar pada sebahagian hari.” (Kitab Asnal Matalib)


Kedua : Qiyamullail (Terawih)


Solat terawih ini sunnahnya dikerjakan secara berjamaah di dalam bulan Ramadhan. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda :


إِنَّهُ مَنْ قَامَ مَعَ الْإِمَامِ حَتَّى يَنْصَرِفَ كُتِبَ لَهُ قِيَامُ لَيْلَةٍ


Maksudnya:"Sesungguhnya barangsiapa yang solat bersama imam sehingga imam itu selesai, maka ditetapkan pahala baginya, seperti solat sepanjang malam". Tirmizi (734)


Dalam menerangkan keutamaan solat terawih ini Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda.


مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Maksudnya:"Barangsiapa yang solat(terawih) kerana iman dan mengharap pahala, maka dia diampuni dosa-dosanya yang telah lalu”. Bukhari (37).


Ketiga : Sedekah.


Kedermawanan Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam paling menonjol pada bulan Ramadhan bila dibandingkan dengan kedermawanan beliau Sallallahu‘alaihiwasallam pada bulan-bulan yang lain.


Daripada Ibn ‘Abbas R.Anhuma,


كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ‏


Maksudnya: Adalah Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam seorang yang paling pemurah dan menjadi lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika Jibril AS bertemu dengannya. Adalah Jibril AS bertemu dengan Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengulangkaji Al-Quran dan kemudiannya Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam menjadi lebih pemurah daripada hembusan angin yang pantas". Al-Bukhari,3554)


Kedermawanan ini mencakup semua erti sedekah dan semua jenis perbuatan baik. Kerana kedermawanan itu banyak memberi dan sering memberi. Dan ini mencakup berbagai macam amal kebajikan dan perbuatan baik. Lihat Lathaiful Ma’âlarif, hlm. 173, oleh Ibnu Rajab rahimahullah


Keempat : Memberikan makan buka puasa kepada orang yang berpuasa


Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam telah menganjurkan umatnya untuk melakukannya dan memberitahukan pahala yang sangat besar sebagai hasil yang bisa mereka raih. Beliau Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda.


مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا


Maksudnya:" Barangsiapa yang memberikan makanan buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka dia akan mendapatkan pahala, sebagaimana pahala orang yangberpuasa tanpa mengurangi sedikitpun pahala orang yang berpuasa”. Tirmizi (735)


Kelima : Membaca Al-Qur’an.


Bulan Ramadhan, merupakan bulan al-Qur’an, sebagaimana difirmankan oleh Allah Subhanahuwata'ala.


شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ


Maksudnya:"(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu, dan pembeza (antara yang hak dan yang batil)”. Al-Baqarah ayat 185.


Dalam sunnah ‘amaliyah Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam, terdapat keterangan tentang praktik nyatanya. Jibril Alaihissallam mengajak Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bertadarus al-Qur’an pada setiap malam bulan Ramadhan.


Daripada Ibn ‘Abbas R.Anhuma:


كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدَ النَّاسِ، وَأَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ، حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ، وَكَانَ جِبْرِيلُ عَلَيْهِ السَّلاَمُ يَلْقَاهُ فِي كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ، فَيُدَارِسُهُ الْقُرْآنَ فَلَرَسُولُ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَجْوَدُ بِالْخَيْرِ مِنَ الرِّيحِ الْمُرْسَلَةِ‏


Maksudnya: Adalah Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam seorang yang paling pemurah dan menjadi lebih pemurah pada bulan Ramadhan ketika Jibril AS bertemu dengannya. Adalah Jibril AS bertemu dengan Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mengulangkaji Al-Quran dan kemudiannya Rasulullah Sallallahu‘alaihiwasallam menjadi lebih pemurah daripada hembusan angin yang pantas".  Al-Bukhari,3554)


Keenam : Umrah

Imam Bukhari rahimahullah dan Imam Muslim rahimahullah meriwayatkan sebuah hadith yang menjelaskan bahawa Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


عُمْرَةٌ فِي رَمَضَانَ تَعْدِلُ حَجَّةً مَعِيْ


Maksudnya:"Umrah pada bulan Ramadhan sama dengan haji bersamaku". Muslim(2202)


Ketujuh : Mencari Lailatul Qadar


Allah Subhanahuwata'ala berfirman.


إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ﴿١﴾وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ﴿٢﴾لَيْلَةُ الْقَدْرِ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ


Maksudnya:"Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu, apakah malam kemuliaan itu ? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan”. Al-Qadr 1-3.


Dalam kitab sahih Bukhari dan Muslim ada riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda :


مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ


Maksudnya:"Barangsiapa solat pada malam qadar kerana iman dan kerana ingin mencari pahala, maka dia diampuni dosanya yang telah lalu”.


Lailatul qadar itu berada pada malam-malam ganjil sepuluh malam terakhir dari bulan Ramadhân. Dalam sebuah hadits yang diriwayatkan oleh Imam Tirmizi rahimahulllah dan Ibnu Majah rahimahullah dengan sanad yang sahih dari Aisyah Radhiyallahu ‘anha, beliau Radhiyallahu ‘anha bercerita :


يَا رَسُولَ اللَّهِ أَرَأَيْتَ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ مَا أَقُوْلُ قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي


Maksudnya:,,Wahai Rasulullah, apakah yang aku katakan, jika aku mendapati lailatul qadar? Beliau Sallallahu‘alaihiwasallammenjawab,”Kata kanlah,


اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي


Maksudnya:"Ya Allah, sesungguhnya engkau Maha Pemberi Maaf, maka maafkanlah aku.”


Demikianlah beberapa tanggungjawab pokok yang semestinya dilaksanakan oleh seorang muslim pada bulan yang penuh barakah ini. Adapun tanggungjawab-tanggungjawab selengkapnya yang wajib dijaga oleh seorang muslim pada bulan ini iaitu menahan diri dari segala perbuatan keji, sabar terhadap penderitaan, menjaga hati dan melaksanakan kewajiban zahir, dengan cara konsisten menjalankan hukum-hukum Islam dan mengikuti sunnah-sunnah Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam.





Tuesday, April 4, 2023

Hargai dan syukuri nikmat Allah.

Hargai dan syukuri nikmat Allah.

Terlalu banyak nikmat Allah Subhanahuwata'ala kurniakan kepada manusia semasa hidup di dunia. Namun manusia sering lalai dan alpa dalam mensyukurinya. Antara nikmat itu ialah ijad (kewujudan) dan imdad (menyokong kewujudan), iman, Islam, sihat fizikal dan mental; selamat daripada musibah, ilmu pengetahuan, kemerdekaan, keamanan, dan kemakmuran. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


وَإِنْ تَعُدُّوا نِعْمَةَ اللَّهِ لَا تُحْصُوهَا


Maksudnya:"Dan jika kamu menghitung-hitung nikmat Allah, niscaya kamu tak dapat menentukan jumlahnya". Al-Nahl ayat 18.


Bakr Al Muzani (w.106/108H-tabi'in)  pernah berkata,


يا ابن آدم ، إنْ أردتَ أنْ تعلمَ قدرَ ما أنعمَ اللهُ عليك ، فغمِّضْ عينيك


Maksudnya:“Wahai manusia, jika engkau ingin tahu kadar nikmat yang telah Allah peruntukkan bagimu, maka penjamkanlah matamu”.


Dalam sebahagian atsar disebutkan,


كم مِنْ نِعمَةٍ لله في عرقٍ ساكن


Maksudnya:"Betapa banyak nikmat Allah yang terdapat dalam pembuluh darah kita". Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 76.


Pengertian nikmat dapat difahami sebagai segala bentuk kesenangan, keselesaan dan memenuhi keperluan manusia seperti makanan, kesihatan, tempat tinggal, kenderaan dan keamanan. Lazimnya kesemua manusia sukakan nikmat Allah dan tidak akan sesekali menolaknya atau mahukan musibah.


Sebagaimana yang diterangkan oleh Ibnu Rajab dalam Jaami’ul ‘Ulum (2: 82), bahkan nikmat itu ada dua jenis, nikmat diniyyah (agama) dan nikmat duniawiyah(dunia). Keadaan selamat, terhindar dari bahaya, kesihatan dan rezeki adalah nikmat duniawiyah. Sedangkan bersyukur dengan mengucapkan "الحمد لله", itu pun nikmat. Nikmat duniawiyah dan diniyyah sama-sama adalah nikmat dari Allah. Kata Ibnu Rajab dan ini yang patut digarisbawahkan,


لكن نعمة الله على عبده بهدايته لشكر نعمه بالحمد عليها أفضل من نعمه الدنيوية على عبده ، فإنَّ النعم الدنيوية إنْ لم يقترن بها الشُّكرُ


Maksudnya:"Akan tetapi nikmat Allah pada hamba dengan memberi hidayah untuk bersyukur terhadap nikmat dengan mengucapkan "الحمد لله" lebih afdhol dari nikmat duniawiyah yang diberikan pada hamba. Kerana nikmat duniawiyah, jika tidak dikaitkan dengan syukur, maka itu malah jadi musibah.”  Sebagaimana kata Ibnu Hazm,


كل نعمة لا تقرب من الله عز وجل، فهي بلية.


Maksudnya:“Setiap nikmat yang tidak digunakan untuk mendekatkan diri pada Allah, itu hanyalah musibah". Lihat Jaami’ul Ulum wal Hikam, 2: 82.


Tujuan Allah mengurniakan pelbagai nikmat kepada manusia adalah untuk membuktikan kebesaran dan kekuasaan-Nya. Nikmat itu juga bagi memudahkan segala urusan kehidupan seharian manusia. Menguji keimanan dan kesabaran seseorang hamba. Menguji sejauh mana manusia mensyukuri nikmat yang dimiliki dan memanfaatkan ke arah jalan yang diredai oleh Allah.


Firman Allah Subhanahuwata'ala,


أَحَسِبَ النَّاسُ أَنْ يُتْرَكُوا أَنْ يَقُولُوا آمَنَّا وَهُمْ لَا يُفْتَنُونَ. وَلَقَدْ فَتَنَّا الَّذِينَ مِنْ قَبْلِهِمْ ۖ فَلَيَعْلَمَنَّ اللَّهُ الَّذِينَ صَدَقُوا وَلَيَعْلَمَنَّ الْكَاذِبِينَ


Maksudnya:"Apakah manusia itu mengira bahawa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: "Kami telah beriman", sedang mereka tidak diuji lagi?. Dan sesungguhnya kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta". Al-Ankabut ayat 2-3.


Allah Subhanahuwata'ala pasti akan menayai nikmat-nikmat yang telah diberikan kepada hamba-hambanya, firman Allah Subhanahuwata'ala.


ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ


Maksudnya:"Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu". Al-Takasur ayat 8


Di antara nikmat yang akan ditanyakan pada hamba di hari kiamat nanti adalah nikmat sihat. Dari Abu Hurairah, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


إِنَّ أَوَّلَ مَا يُسْأَلُ عَنْهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ يَعْنِى الْعَبْدَ مِنَ النَّعِيمِ أَنْ يُقَالَ لَهُ أَلَمْ نُصِحَّ لَكَ جِسْمَكَ وَنُرْوِيكَ مِنَ الْمَاءِ الْبَارِدِ


Maksudnya:"Sungguhnya nikmat yang pertama Kali akan ditanyakan pada hamba  pada hari kiamat kelak adalah dengan pertanyaan: “Bukankah Kami telah memberikan kesihatan pada badanmu dan telah memberikan padamu air yang menyegarkan?". Tirmidzi (3358).


Dan kebanyakan manusia lalai dari nikmat sihat tersebut. Dari Ibnu ‘Abbas, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam juga bersabda,


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


Maksudnya"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, iaitu nikmat sihat dan waktu lapang". Bukhari (6412).


Nikmat sihat yang telah dikatakan oleh Abu Darda,

الصِّحَّةُ غِنى الجسد


Maksudnya:"Sihat adalah ghina jasad (iaitu bentuk kecukupan yang ada pada badan kita)”. (Kitabusy Syukr, hal. 102. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 76).


Mengenai surat At Takatsur ayat 8, Ibnu ‘Abbas berkata,


النعيم : صحَّةُ الأبدان والأسماع والأبصار ، يسأَلُ الله العبادَ : فيما استعملوها ؟ وهو أعلمُ بذلك منهم ، وهو قوله تعالى : { إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً }  .


Maksudnya:Yang namanya nikmat adalah badan, pendengaran dan penglihatan yang dalam keadaan sihat. Allah kelak akan menanyakan mengenai nikmat tersebut untuk apakah dimanfaatkan?” Allah yang pasti mengetahui hal itu. Kerana Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْؤُولاً


Maksudnya:"Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya". Al Isra’ ayat 36. Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 77.


Wahab bin Munabbih berkata bahawa telah tertulis dalam hikmah keluarga Daud,


العافية المُلك الخفيُّ


Maksudnya:"Sihat itu bagaikan kerajaan yang tersembunyi". Lihat Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 76.


Ibnu Mas’ud berkata,


النعيمُ : الأمنُ والصحة


Maksudnya:"Termasuk nikmat adalah rasa aman dan sihat". (Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim sebagaimana disebutkan oleh Ibnu Katsir. Dinukil dari Jaami’ul ‘Ulum wal Hikam, 2: 77).


CARA MENGHARGAI NIKMAT


Terdapat beberpa cara mensyukuri nikmat kurniaan Allah. Diantaranya;


Pertama: Melalui hati. 


Bersyukur dengan hati dilakukan dengan cara senantiasa menyedari, mengingati dan menghadirkan dalam hati bahawa setiap nikmat yang kita rasakan tersebut dari Allah, dan bukan dari siapa pun. 


Firman Allah Subhanahuwata'ala,


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ ۖ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


Maksudnya:"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Ibrahim ayat 7.


Kedua: Dengan lidah.


Melalui perkataan, iaitu mengucap Alhamdulillah setiap kali mendapat nikmat. 


Hendaklah memuji Allah Subhanahuwata'ala di atas segala nikmat yang telah dikurniakan. Ini sepertimana ungkapan Nabi Allah Sulaiman AS:


هَـٰذَا مِن فَضْلِ رَبِّي لِيَبْلُوَنِي أَأَشْكُرُ أَمْ أَكْفُرُ


Maksudnya: “Ini ialah dari limpah kurnia Tuhanku, untuk mengujiku adakah aku bersyukur atau aku tidak mengenangkan nikmat pemberian-Nya". Al-Naml ayat 40.


Ketiga: Melalui tubuh badan.


Iaitu dengan perbuatan sujud syukur dan menggunakan nikmat untuk kebaikan bersama-sama ahli keluarga serta masyarakat.


Allah Subhanahuwata'ala berfirman:


اعْمَلُوا آلَ دَاوُودَ شُكْرًا


Maksudnya: "Beramallah kamu wahai keluarga Daud untuk bersyukur!".Saba’ ayat 13.


Ibn Kathir berkata: Iaitu, Kami katakan kepada mereka: "Beramallah kamu sebagai tanda bersyukur atas segala nikmat yang diberikan kepada kamu dalam agama dan dunia. Perkataan " شُكْرًا" adalah masdar yang bukan dari fi'il (اعْمَلُوا) atau ia adalah dalam bentuk maf'ul lahu (مفعول له). Atas asas kedua-dua taqdir tersebut, menunjukkan bahawa syukur boleh dilakukan dengan perbuatan serta perkataan dan niat.


Dalil yang menunjukkan kepada pensyariatan sujud syukur adalah berdasarkan hadith Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam daripada Abu Bakrah R.A:


أَنَّهُ كَانَ إِذَا جَاءَهُ أَمْرُ سُرُورٍ أَوْ بُشِّرَ بِهِ خَرَّ سَاجِدًا شَاكِرًا لِلَّهِ


Maksudnya: “Adalah Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam ketika telah datang sesuatu perkara yang menggembirakan ataupun diceritakan sesuatu yang gembira dengannya akan turun sujud, bersyukur terhadap Allah Subhanahuwata'ala". Riwayat Abu Daud (2774).


Cara menghargai nikmatnya ialah dengan memanfaatkannya ke arah kebaikan dan tidak menggunakannya ke jalan maksiat dan tidak melakukan pembaziran terhadap nikmat pemberian Allah.


Firman Allah Subhanahuwata'ala,


وَقَلِيلٌ مِنْ عِبَادِيَ الشَّكُورُ….


Maksudnya:.....Dan sedikit sekali dari hamba-hamba-Ku yang berterima kasih". As-Saba ayat 13.


Maksudnya: Hanya sedikit dari kalangan hamba-hamba Allah yang menggunakan mikmat Allah untuk beribadah kepada Allah.


Tidak berasa bangga diri, angkuh dan sombong dengan nikmat yang diperoleh. Berkongsi nikmat yang dimiliki bersama-sama orang lain melalui sedekah kepada fakir miskin. Sentiasa mengingati bahawa Allah adalah sebagai pemberi nikmat yang mutlak dan Dia berhak pada bila-bila masa untuk menggandakan atau menarik balik daripada kita.


Lantaran itu, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda:


 عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنَّ اللَّهَ يُحِبَّ أَنْ يَرَى أَثَرَ نِعْمَتِهِ عَلَى عَبْدِهِ


Maksudnya:"Dari 'Amru bin Syu'aib dari Ayahnya dari Datuknya ia berkata; Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Sesungguhnya Allah suka bila melihat bekas nikmat-Nya yang diberikan kepada hamba-NYa". Tirmizi(2744)


Allah Subhanahuwata'ala berfirman dalam Surah al-Dhuha:


وَأَمَّا بِنِعْمَةِ رَبِّكَ فَحَدِّثْ


Maksudnya: Adapun nikmat Tuhanmu, maka hendaklah engkau sebut-sebutkan (dan zahirkan) sebagai bersyukur kepadaNya.


Imam al-Qurtubi dalam mentafsirkan ayat ini berkata: “Sebarkanlah apa yang Allah SWt kurniakan kepada kamu dengan perasaan syukur dan pujian kepada Allah. Menyebut-nyebut pelbagai nikmat Allah dan mengiktiraf nikmat tersebut adalah satu bentuk kesyukuran.” (Lihat al-Jami' li Ahkam al-Quran, 20/102)


Kebaikan bersyukur terhadap nikmat yang dikurniakan oleh Allah Subhanahuwata'ala ialah diri akan sentiasa berasa cukup terhadap nikmat yang dimiliki. Dapat memberi kelapangan dada dan ketenangan hati. Sentiasa menggunakan nikmat tersebut dengan sebaiknya. Pada setiap masa berterima kasih kepada Allah yang memberikan nikmat termasuk berdoa agar ia diberkati, berlipat ganda, dan berkekalan.


TANDA-TANDA TIDAK BERSYUKUR


Daripada Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda:


لاَ يَشْكُرُ اللَّهَ مَنْ لاَ يَشْكُرُ النَّاسَ


Maksudnya: “Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi sesiapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia". Riwayat Abu Daud (4811) dan al-Tirmizi (1954)


Hati yang selalu berasa keluh kesah, gelisah, tidak tenang adalah tanda-tanda akibat tidak mensyukuri nikmat kurniaan Allah.


Malah pada masa sama, gemar pula menggunakan nikmat tersebut ke jalan maksiat dan dosa. Sentiasa berasa tidak cukup dengan nikmat yang dimiliki dan diperoleh. Nikmat yang dimiliki boleh ditarik balik oleh Allah dan boleh hilang sekelip mata pada bila-bila masa.


Berkaitan hal ini, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ ، الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ


Maksudnya"Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, iaitu nikmat sihat dan waktu lapang". Bukhari (6412).


Langkah-langkah yang perlu dilakukan supaya nikmat sentiasa bertambah ialah membayar zakat harta apabila cukup syarat. Hendaklah bersyukur dengan nikmat yang ada. Tidak kedekut untuk bersedekah kepada fakir miskin. Menggunakan nikmat tersebut ke arah jalan yang diredai Allah. Tidak bersikap bangga diri dan sombong dengan nikmat tersebut.


Lantaran itu Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam mengingatkan dalam sabdanya: 


… فَقَالَ أَيُّهَا النَّاسُ لَا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ وَسَلُوا اللَّهَ الْعَافِيَةَ…..


bersabda:"....Wahai sekalian manusia, janganlah kalian mengharapkan berjumpa dengan musuh akan tetapi mohonlah kepada Allah keselamatan…". Bukhari(2801)


Terdapat beberapa akibat apabila tidak bersyukur dengan nikmat Allah. Antaranya:


Pertama: Ditarik balik nikmat oleh Allah.


Kedua:Individu dan masyarakat akan berada dalam keadaan mundur iaitu tidak maju.


Ketiga:Kesempitan hidup dan tidak mendapat keberkatan daripada Allah Subhanahuwata'ala.


Keempat:Tidak dihormati dan dipandang hina oleh masyarakat.


Kelima:Mendapat azab Allah Subhanahuwata'ala pada hari akhirat kelak.


Apakah nikmat yang telah perolehi di dunia ini benar-benar telah disyukuri, disalurkan untuk melakukan hak Allah dan tidak disalurkan untuk perbuatan maksiat? Jika nikmat tersebut benar-benar telah disyukuri, maka ianya kelak akan diberikan nikmat yang lebih mulia dan lebih afdhal.


Atau ada yang telah tertipu dengan nikmat tersebut? Malah mereka tidak mensyukurinya? Bahkan sungguh celaka, mereka yang  telah memanfaatkan nikmat tersebut dalam kemaksiatan. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


وَيَوْمَ يُعْرَضُ الَّذِينَ كَفَرُوا عَلَى النَّارِ أَذْهَبْتُمْ طَيِّبَاتِكُمْ فِي حَيَاتِكُمُ الدُّنْيَا وَاسْتَمْتَعْتُمْ بِهَا فَالْيَوْمَ تُجْزَوْنَ عَذَابَ الْهُونِ


Maksudnya"Dan (ingatlah) hari (ketika) orang-orang kafir dihadapkan ke neraka (kepada mereka dikatakan): “Kamu telah menghabiskan rezkimu yang baik dalam kehidupan duniawimu (saja) dan kamu telah bersenang-senang dengannya; maka pada hari ini kamu dibalasi dengan azab yang menghinakan". Al Ahqaf ayat 20. 


Maka, bersyukurlah atas nikmat yang dikurniakan selagi kita bernyawa. Apabila bersyukur Allah Subhanahuwata'ala akan melimpahkan pelbagai nikmat kepada kita. Bersyukur dan membesarkan kenikmatan Allah adalah melalui hati dan lidah, iaitu perbuatan orang yang beriman dan bertakwa.


Semoga kita menjadi hamba yang bersyukur.


وَسَنَجْزِي الشَّاكِرِينَ


Maksudnya:"Dan kami akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur". Ali Imran ayat 145.


وَإِذْ تَأَذَّنَ رَبُّكُمْ لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ


Maksudnya:"Dan (ingatlah juga), tatkala Rabbmu memaklumkan; “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih". Ibrahim ayat  7.


Mudah-mudahan kita dapat menyalurkan segala nikmat dalam kebaikan, dengan mengakui dalam hati bahawa itu adalah nikmat dari Allah, menyebut "الحمد لله" dengan lisan, dan menyalurkan nikmat tersebut dalam ketaatan, bukan dalam maksiat.



Muhasabah Diri

Muhasabah Diri Muhasabah diri (daripada perkataan Arab; محاسبة) ialah amalan menilai, menghisab, dan memeriksa kembali diri sendiri, termasu...