Thursday, January 4, 2024

Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka.

Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka.

Jagalah diri kita dan keluarga kita dari panasnya api neraka. Sebagaimana hal ini telah diperintah oleh Allah Subhanahuwata’ala dalam firman-Nya,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيكُمْ نَارًا وَقُودُهَا النَّاسُ وَالْحِجَارَةُ عَلَيْهَا مَلَائِكَةٌ غِلَاظٌ شِدَادٌ لَا يَعْصُونَ اللَّهَ مَا أَمَرَهُمْ وَيَفْعَلُونَ مَا يُؤْمَرُونَ


Maksudnya:"Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu, penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan".  At-Tahrim ayat  6.


Keluarga di dalam Islam memiliki kedudukan yang amat krusial dan penting. Darinyalah masyarakat Islam terbentuk, dan darinya pula sebuah generasi emas akan terwujud.

Islam sangat memberi perhatian terhadap keluarga. Sebelum sebuah keluarga itu terbentuk, Islam telah memberikan bimbingan dan arahan tentang langkah yang seharusnya diambil oleh laki-laki sehingga dirinya  sukses membangunkan bahtera rumah tangganya. Iaitu, dengan memilih isteri yang solehah bagi dirinya. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


فاظفَرْ بذات الدين تَرِبَتْ يداك


Maksudnya".Maka, pilihlah (wanita) kerana agamanya, nescaya kamu akan beruntung". Riwayat Bukhari (5090) dan Muslim (1466)


Bukan hanya dari sisi calon suami saja, demikian pula halnya dengan para wali calon isteri. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam memberikan nasihat kepada para wali perempuan untuk menerima lamaran dari laki-laki yang soleh dan baik agamanya. Beliau Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


إذا جاءَكم من ترضَونَ دينَهُ وخلُقَهُ فأنكِحوهُ إلَّا تفعَلوا تكُن فتنةٌ في الأرضِ وفسادٌ


Maksudnya:"Jika seseorang datang melamar (anak perempuan dan kerabat) kalian, sedangkan kalian reda pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tidak kalian lakukan, nescaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerosakan.”


Ketika mendengar hal tersebut para sahabat pun bertanya, “Wahai Rasulullah, meskipun mereka tidak kaya?”


Beliau bersabda, “Jika seseorang datang melamar (anak perempuan) kalian, kalian reda pada agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia.” Beliau mengatakannya tiga kali".  Tirmizi (1085) dan Al-Baihaqi  (13863)


Salah satu langkah terpenting di dalam membangunkan keluarga yang harmoni dan sarat dengan kesolehan dan kebaikan adalah kepedulian dan pengawasan penuh dalam mendidik anak-anak kita. Bermula saat mereka masih kecil, para orang tua sudah dituntut untuk membimbing ibadah mereka dan budi pekerti mereka. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


مُروا أولادَكم بالصلاةِ وهم أبناءُ سبعِ سنينَ واضربوهُم عليها وهمْ أبناءُ عشرٍ وفرِّقوا بينهُم في المضاجعِ


Maksudnya:"Perintahkanlah anak-anak kalian untuk melaksanakan solat apabila sudah mencapai umur tujuh tahun. Dan apabila sudah mencapai umur sepuluh tahun, maka pukullah dia apabila tidak melaksanakannya. Dan pisahkanlah mereka dalam tempat tidurnya". Riwayat Abu Dawud (495)


Kepedulian terhadap pendidikan dan perkembangan anak bukan hanya pada perkara makan, pakaian, dan memenuhi keperluan-keperluan insaniah sahaja seperti yang banyak dilakukan oleh masyarakat kita di zaman sekarang. Lebih jauh dari itu, orang tua dan para wali bertanggung jawab penuh terhadap akhlak dan agama anak-anaknya. Dan ini bukanlah tugas ibu semata, di dalam mendidik anak-anak. Seorang ayah juga dituntut untuk ikut serta dan mengambil bahagian di dalamnya. Di manakah letak keteladanan jika seorang ayah tidak mampu dan tidak mahu turut serta di dalam mendidik anak-anaknya?.


Perkara terpenting yang mesti kita ajarkan dan kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah keyakinan perihal kebesaran Allah Subhanahuwata’ala, merasa diawasi oleh-Nya, bergantung kepada-Nya dalam segala hal, dan takut kepada-Nya baik di dalam keramaian mahupun saat sendirian.


Kenapa? Kerana anak-anak kita hidup di zaman di mana kemaksiatan sangat mudah dijangkau, peluang untuk bermaksiat amatlah besar, pintu-pintu kemaksiatan tersebut bahkan ada dalam setiap genggaman kita. Tanpa perlu bersusah payah keluar rumah, atau bahkan keluar kamar, seorang anak sangat dimungkinkan untuk melakukan kemaksiatan dan melakukan hal-hal yang Allah haramkan. Di dalam menghadapi hal tersebut, ketakwaan dan merasa diawasi Allah Subhanahuwata’ala adalah perkara terpenting yang mesti dimiliki oleh setiap anak.


Perkara kedua yang mesti kita tanamkan kepada anak-anak kita adalah tentang keutamaan menjaga solat dan larangan dari menyia-nyiakannya. Kerana kesuksesan dan keberhasilan seorang hamba baik di dunia ini mahupun di akhirat nanti tidaklah terwujud, kecuali dengannya. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam suatu ketika menyebutkan tentang perkara solat, lalu beliau Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


من حافَظَ عليها كانت لَه نورًا وبُرهانًا ونجاةً إلى يومِ القيامةِ ومن لَم يُحافِظ عليها لم يَكن لَه نورٌ ولا برهانٌ ولا نجاةٌ وَكانَ يومَ القيامةِ معَ فرعونَ وَهامانَ وأبَيِّ بنِ خلفٍ


Maksudnya:"Siapa yang menjaga solat, maka ia akan mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan sampai hari kiamat. Dan siapa yang tidak menjaganya, maka ia tidak mendapatkan cahaya, petunjuk, dan keselamatan. Nantinya di hari kiamat, ia akan dikumpulkan bersama Qarun, Fir’aun, Haman, dan Ubay bin Khalaf". Riwayat Ahmad (6576, Ibnu Hibban (1467), dan At-Thabrani, 14: 127 no. 14746)


Sangat sedih, kita hidup bersama generasi yang ramai  di antara mereka menyia-nyiakan  solat. Bahkan, tidak kurang sebahagian dari mereka meninggalkan solat dalam pengawasan dan pengetahuan orang tuanya. Padahal di dalam hadith, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam menjelaskan secara jelas,


العَهدُ الذي بَينَنا وبَينَهُم الصلاةُ، فمن تَرَكَها فَقَد كَفَرَ


Maksudnya:"Batas antara kita dan mereka (orang-orang kafir) adalah solat. Barangsiapa yang meninggalkannya, maka telah kafir". Riwayat Tirmidzi (2621) dan An-Nasa’i (463)


Di dalam Al-Qur’an Allah Subhanahuwata’ala juga sudah mengkhabarkan akan adanya sebahagian dari generasi kaum muslimin yang menyia-nyiakan solat, dan di ayat itu juga Allah sebutkan balasan dan hukumannya bagi mereka. sebagaimana firman-Nya,


فَخَلَفَ مِنْ بَعْدِهِمْ خَلْفٌ أَضَاعُوا الصَّلَاةَ وَاتَّبَعُوا الشَّهَوَاتِ فَسَوْفَ يَلْقَوْنَ غَيًّا إِلَّا مَنْ تَابَ وَآَمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا


Maksudnya:"Maka, datanglah sesudah mereka, pengganti (yang jelek) yang menyia-nyiakan solat dan memperturutkan hawa nafsunya. Maka, mereka kelak akan menemui kesesatan dan keburukan, kecuali orang yang bertaubat, beriman, dan beramal soleh".  Maryam ayat 59-60.


Sebahagian ahli tafsir tatkala menjelaskan kata “al-ghayya” di dalam ayat tersebut menyebutkan bahawa maknanya adalah nama salah satu sungai di neraka Jahanam yang penuh keburukan dan kepedihan. 


Di antara pendidikan yang mesti kita tanamkan kepada anak-anak kita, terutama anak perempuan kita adalah rasa malu. Rasa malu adalah perhiasan hakiki bagi wanita muslimah. Dengannya martabat seorang muslim terjaga, dan dengannya pula aib serta kekurangan-kekurangan yang ia miliki akan tertutup. Disebutkan dalam hadith,


الْحَياءُ خَيْرٌ كُلُّهُ.


Maksudnya:"Malu itu semuanya baik.” Riwayat Bukhari (6117) dan Muslim  (37)


Malu yang dimaksudkan di sini adalah rasa malu yang membuat diri kita terhindar dari melakukan kemaksiatan dan dosa. Rasa malu yang membuat seseorang menahan diri untuk tidak melakukan kemaksiatan kepada Allah Subhanahuwata’ala, baik itu di tempat keramaian mahupun di tempat yang sunyi.


Namun,ada tanggapan salah terkait dengan sifat malu ini yang tersebar di dalam kalangan masyarakat kita, iaitu anggapan bahawa sifat malu tidak wajar bagi laki-laki, sifat malu hanya khusus untuk perempuan saja.


Tanggapan ini keliru dan salah. Kerana seseorang yang malu jika dilihat oleh manusia lainnya tatkala berbuat kemaksiatan, maka sudah tentu  semistinya ia lebih malu kepada Rabbnya. Dan siapa saja yang malu kepada Rabbnya, maka rasa malunya tersebut akan mencegahnya dari melalaikan kewajipan ibadahnya dan dari melakukan kemaksiatan.


Bagi kita sebagai orang tua, ada tiga hal penting yang mesti kita lakukan agar pendidikan kita kepada anak-anak kita sukses mencapai tujuannya.


Pertama: Jadilah teladan yang baik untuk anak-anak kita.


Keteladan memiliki kesana yang besar di dalam mewujudkan keberhasilan pendidikan anak-anak kita. Saat orang tua boleh menjadi teladan dan contoh yang baik untuk anak-anaknya, maka itu memudahkan anak-anak untuk memahami pengajaran dan pendidikan yang hendak disampaikan oleh orang tuanya. Sebaliknya, saat orang tua tidak dapat menjadi teladan yang baik untuk anak-anaknya, maka sang anak akan mencuba mencari sosok lainnya yang akan ia jadikan teladan. Tidak menghairankan bila kemudiannya mereka mencontoh artis-artis di TV dan selebgram-selebgram(Selebriti” dan “Instagram)yang bertebaran di dunia maya.


Keteladanan di dalam mendidik banyak sekali ditekankan oleh Allah Subhanahuwata'ala di dalam Al-Qur’an. Lihatlah bagaimana Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk meneladani Nabi Muhammad Sallallahu‘alaihiwasallam dan nabi-nabi lainnya. Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ فَبِهُدَاهُمُ اقْتَدِهْ


Maksudnya:"Mereka itulah (para nabi) yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka ikutilah petunjuk mereka".  Al-An’am ayat 90.


Kedua: Selalu mengawasi anak-anak kita.


Jangan sampai anak-anak kita menjadi korban para pemuja syubhat dan syahwat. Kita hidup di zaman di mana pemikiran-pemikiran sesat dan menyimpangan bermaharajale. Setiap individu bebas menyampaikan Pendapat dan pilihannya. Sebuah keterbukaan yang membuat syubhat dan syahwat mengepung anak-anak kita. Pergaulan bebas yang tidak terkontrol, keberanian wanita yang mengaku muslimah untuk melepas hijabnya, berdalih dengan kebebasan individu. Podcast-podcast (sebuah digital audio yang dihasilkan dalam bentuk rakaman) yang dipenuhi dengan orang-orang yang tidak beres dan bahkan tayangan-tayangan anak kecil yang terkadang disisipi oleh adegan-adegan yang tidak selayaknya dipertontonkan.


Agar terhindar dari semua yang disebutkan, hal itu memerlukan pengawasan orang tua kepada anaknya, meskipun mereka sudah besar. Jangan biarkan anak-anak perempuan kita pergi keluar sendirian untuk bekerja di tempat yang masih campur baur antara laki-laki dan perempuan. Jangan berat hati untuk memberikan batasan waktu bermain atau keluar rumah bagi anak laki-laki kita. Kerana tanpa adanya pengawasan orang tua, maka ini akan membuka pintu-pintu syaitan untuk mengganggu dan menyesatkan kita dan anak-anak kita.


Ketiga: Jangan lupa untuk mendoakan kebaikan kepada anak-anak kita.


Doa orang tua adalah doa yang mustajab. Manfaatkanlah hal ini untuk mendoakan kebaikan untuk anak-anak kita. Sebaliknya, jangan sampai mendoakan keburukan untuk anak-anak kita meskipun mereka sedang nakal sekalipun. 

Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٌ لاَ شَكَّ فِيهِنَّ دَعْوَةُ الْوَالِدِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِرِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ


Maksudnya:"Tiga doa yang mustajab yang tidak diragukan lagi, iaitu doa orang tua, doa orang yang bepergian (safar), dan doa orang yang dizalimi.” Riwayat Abu Daud (1536). 


Semoga Allah Ta’ala senantiasa menjaga kita, keluarga kita, dan anak-anak kita dari siksa api neraka, menjaga mereka dari bahaya fitnah syahwat dan syubhat. Ya Allah, jadikanlah kami orang tua yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang dapat memberikan contoh yang baik untuk anak-anak kami. Jadikanlah kami orang tua yang senantiasa mendoakan kebaikan untuk anak-anak kami, seperti Nabi Ibrahim ‘alaihis salam yang mendoakan anak-anaknya,


رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاَةِ وَمِن ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاء


Maksudnya:"Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan solat. Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku". Ibrahim ayat 40.


رَبِّ اجْعَلْ هَذَا الْبَلَدَ آمِنًا وَاجْنُبْنِي وَبَنِيَّ أَن نَّعْبُدَ الأَصْنَامَ


Maksudnya:"Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini (Makkah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala".  Ibrahim ayat  35.


Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa menjaga diri kita dan keluarga kita dari panasnya azab neraka Jahanam.



Wednesday, December 27, 2023

Bekerja menurut perspektif Islam.

Bekerja menurut perspektif Islam.

Soal makan minum, tempat tinggal, pakaian dan kenderaan untuk menyampaikan kita ke satu-satu destinasi adalah memerlukan harta dan kewangan yang kukuh. Antara cara untuk mendapatkan harta adalah melalui pekerjaan. Dengan sebab itu, dalam al-Quran al-Karim terlalu banyak perintah untuk kita bekerja seterusnya mencapai kehendak manusiawi yang kita miliki. Terlalu banyak bentuk pekerjaan yang boleh kita lakukan. Yang penting adalah halal dan tidak bertentangan dengan Syariat sama ada kita sebagai peniaga, tokoh korporat yang besar, petani, pekebun, penternak, nelayan, pertukangan, mengambil sebarang upah, penjawat awam, bekerja di sektor swasta, maka semuanya adalah digalakkan. Begitu juga pembetulan niat setiap kali kita bekerja biarlah diniatkan kerana mengikut apa yang diperintah oleh Allah. Sebagai contoh, Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam bersabda:


مَنْ طَلَبَ الدُّنْيَا حَلَالَا اسْتِعْفَافًا عَنِ الْمَسْأَلَةِ ، وَسَعْيَا عَلَى أَهْلِهِ ، وَتَعَطُّفًا عَلَى جَارِهِ ، جَاءَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَوَجْهُهُ كَالْقَمَرِ لَيْلَةَ الْبَدْرِ


Maksudnya: “Barangsiapa mencari rezeki halal untuk menjaga diri daripada meminta-minta, dan dengan tujuan memenuhi nafkah keluarga, serta supaya dapat membantu tetangganya, nescaya dia akan datang pada hari Kiamat dengan wajahnya yang berseri-seri seperti bulan di malam purnama.”

Riwayat al-Baihaqi dalam Syu’ab al-Iman (9890) dan
al-Tabarani dalam Musnad al-Syamiyyin (3465)


Setiap perkara harus yang dilakukan oleh seorang Mukmin dengan unsur niat, ia bertukar menjadi ibadat. Namun, perkara haram tetap haram hukumnya walau bagaimana suci sekalipun niat si pelaku. Islam tidak merestui sesuatu yang haram itu dijadikan wasilah kepada tujuan yang mulia. Ini kerana, Islam menekankan kemurnian matlamat dan cara pada masa yang sama. Syariat Islam tidak menerima sama sekali prinsip, matlamat menghalalkan cara ataupun mencapai kebenaran melalui kerja-kerja batil. Sebaliknya, Islam mewajibkan umat mencapai kebenaran melalui jalan yang benar.


Kaedah dan ketetapan ini telah disebut oleh para Ulamak dan Fuqaha sebagai:


 “الوسائل تتبع المقاصد في أحكامها” 


Maksudnya:"Segala wasilah atau cara mengikut hukum maksud atau tujuan".


Dan cara ini hendaklah difahami, jika ianya haram maka hukumnya haram dan jika wasilahnya wajib, maka hukumnya wajib. Begitulah baki pada hukum-hukum yang lain. Lihat al-Furuq, 3/111-112.


Ini bererti matlamat sesuatu perkara itu tidak menghalalkan cara. Dalam erti kata lain sesuatu matlamat yang baik hendaklah dijayakan dengan cara yang betul dan menepati kehendak syarak. Dilarang sama sekali sesuatu matlamat yang baik menggunakan cara yang tidak benar.


Pada hari Jumaat Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk bersegera ke masjid dan melaksanakan solat Jumaat dan melarang kita dari melakukan jual beli saat azan solat jumaat berkumandang. Hal ini menunjukkan kepada kita pentingnya perkara solat, kerana transaksi jual beli dan perdagangan seringkali akan melalaikan seorang hamba dari beribadah kepada Allah Subhanahuwata'ala.


Mengenai hari Jumaat yang istimewa dan penuh keistimewaan ini, Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِذَا نُودِيَ لِلصَّلَاةِ مِنْ يَوْمِ الْجُمُعَةِ فَاسْعَوْا إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ وَذَرُوا الْبَيْعَ ذَلِكُمْ خَيْرٌ لَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ


Maksudnya:"Wahai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan solat Jumaat, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui". Al-Jumu’ah ayat  9.


Namun pada ayat yang selanjutnya Allah Subhanahuwata’ala pula berfirman,


فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلَاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الْأَرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ


Maksudnya:"Apabila telah ditunaikan solat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah kurnia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak supaya kamu beruntung". Al Jumu’ah ayat  9-10.


Walaupun ayat ini seperti arahan untuk bertebaran mencari rezeki, tetapi ia bukanlah ayat arahan. Ini kerana sebelum itu telah diberikan larangan, maka apabila ada arahan selepas larangan, maka ia membawa maksud ‘harus’. Juga, bukanlah semua ayat arahan dalam Al-Qur’an itu membawa kepada maksud ‘wajib’. 


Menurut tafsir Ibnu Katsir;

Setelah mereka dilarang melakukan transaksi sesudah seruan yang memerintahkan mereka untuk berkumpul, kemudian diizinkan bagi mereka sesudah itu untuk bertebaran di muka bumi dalam rangka mencari kurniaan Allah, seperti apa yang dilakukan oleh Irak ibnu Malik r.a. apabila dia telah selesai dari solat Jumaatnya, maka ia berdiri di pintu masjid, lalu berdoa:


اللَّهُمَّ إِنِّي أجبتُ دعوتَك، وصليتُ فريضتك، وانتشرت كما أمرتني، فَارْزُقْنِي مِنْ فَضْلِكَ، وَأَنْتَ خَيْرُ الرَّازِقِينَ


Maksudnya:"Ya Allah, sesungguhnya aku menyukai seruanmu, dan aku telah kerjakan solat yang Engkau fardukan serta aku akan menebar sebagaimana yang telah Engkau perintahkan, maka berilah daku rezeki dari karunia-Mu, dan Engkau adalah sebaik-baik Pemberi rezeki. Riwayat Imam Ibnu Abu Hatim.


Telah diriwayatkan pula dari sebahagian ulama Salaf bahawa mereka pernah mengatakan, "Barang siapa yang melakukan jual beli pada hari Jumaat sesudah menunaikan solat Jumaat, maka Allah Subhanahuwata'ala akan memberkati jual belinya sebanyak tujuh puluh kali, kerana ada firman Allah Subhanahuwata'ala. yang mengatakan:


{فَإِذَا قُضِيَتِ الصَّلاةُ فَانْتَشِرُوا فِي الأرْضِ وَابْتَغُوا مِنْ فَضْلِ اللَّهِ}


Maksudnya:"'Apabila telah ditunaikan sollat, maka bertebaranlah kamu di muka bumi; dan carilah kurnia Allah". Al-Jumu'ah ayat 10". 

Adapun firman Allah Subhanahuwata'ala:


{وَاذْكُرُوا اللَّهَ كَثِيرًا لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ}


Maksudnya:"Dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung". Al-Jumu'ah ayat 10.


Yakni di saat kamu melakukan transaksi jual beli dan saat menerima dan memberi, banyak-banyaklah kamu mengingat Allah, dan janganlah kamu disibukkan oleh urusan duniamu hingga kamu melupakan hal yang bermanfaat bagimu di negeri akhirat nanti. Kerana itulah maka disebutkan dalam sebuah hadith:


"مَنْ دَخَلَ سُوقًا مِنَ الْأَسْوَاقِ فَقَالَ: لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ كُتبت لَهُ ألفُ أَلْفِ حَسنة، ومُحي عَنْهُ ألفُ أَلْفِ سَيئة"


Maksudnya:" Barangsiapa yang memasuki sebuah pasar, lalu mengucapkan

لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ، وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ

Maksudnya:"Tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, milik-Nyalah semua Kerajaan dan segala puji, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, " maka Allah akan mencatat baginya satu juta kebaikan dan menghapuskan darinya sejuta keburukan (dosa).


Mujahid mengatakan bahawa bukanlah seorang hamba termasuk orang-orang yang banyak mengingat Allah sebelum dia selalu ingat kepada Allah, baik dalam keadaan berdiri, duduk, ataupun berbaring.

Lihat Tafsir Al-Quran Al-Adzim.


Allah Subhanahuwata'ala memerintahkan kita untuk bekerja, mencari penghasilan, dan tidak melupakan nafkah yang wajib kita tunaikan untuk keluarga kita, setelah sebelumnya kita juga diperintahkan untuk beribadah dan melaksanakan solat.


Islam juga memerintahkan kita untuk menjemput rezeki dan mencari nafkah di atas muka bumi ini, sehingga dengannya kita dapat mencukupi diri kita sendiri dan orang-orang yang berada di bawah tanggungan kita tanpa perlu meminta belas kasihan orang lain. Allah Subhanahuwata'ala berfirman menjelaskan kepada kita tentang hikmah dari diciptakannya siang dan malam,


وَمِنْ رَحْمَتِهِ جَعَلَ لَكُمُ اللَّيْلَ وَالنَّهَارَ لِتَسْكُنُوا فِيهِ وَلِتَبْتَغُوا مِنْ فَضْلِهِ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ


Maksudnya:"Dan kerana rahmat-Nya, Dia jadikan untukmu malam dan siang, supaya kamu beristirehat pada malam itu dan supaya kamu mencari sebahagian dari kurnia-Nya (pada siang hari) dan agar kamu bersyukur kepada-Nya". Al-Qasas ayat 73.


Allah Subhanahuwata'ala juga berfirman,


هُوَ الَّذِي جَعَلَ لَكُمُ الْأَرْضَ ذَلُولًا فَامْشُوا فِي مَنَاكِبِهَا وَكُلُوا مِنْ رِزْقِهِ وَإِلَيْهِ النُّشُورُ


Maksudnya:"Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan".  Al-Mulk ayat 15.


Ibnu Katsir rahimahullah saat menafsirkan ayat di atas mengatakan, “Maka, bepergianlah ke mana pun kamu mahu dari wilayahnya, dan telusuri serta pulang pergilah ke setiap sudutnya untuk mencari segala macam keuntungan dan perdagangan. Dan ketahuilah bahawa usahamu tidak akan membawa manfaat apa pun kepadamu, kecuali jika Allah memudahkannya untukmu". 

Lihat Tafsir Al-Quran Al-Adzim, 8: 179.


Di ayat yang lain, Allah Subhanahuwata'ala menjelaskan kepada kita bahawa mencari penghasilan dan pekerjaan di muka bumi serta mengelola sumber daya yang ada merupakan salah satu keistimewaan yang Allah Subhanahuwata'ala berikan kepada manusia. Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


هُوَ أَنشَأَكُم مِّنَ الْأَرْضِ وَاسْتَعْمَرَكُمْ فِيهَا


Maksudnya:"Dia telah menciptakan kamu dari bumi (tanah) dan menjadikan kamu pemakmurnya". Hud ayat 61.


Nabi Muhammad Sallallahu‘alaihiwasallam, suri teladan bagi kita, juga mengajak kita untuk giat bekerja, dan mencari penghasilan. Di antara sabda beliau,


لَأَنْ يَأْخُذَ أَحَدُكُمْ حَبْلَهُ، فَيَأْتِيَ بحُزْمَةِ الحَطَبِ علَى ظَهْرِهِ، فَيَبِيعَهَا، فَيَكُفَّ اللَّهُ بهَا وجْهَهُ خَيْرٌ له مِن أَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ أَعْطَوْهُ أَوْ مَنَعُوهُ


Maksudnya:"Sesungguhnya, seorang di antara kalian membawa tali-talinya dan pergi ke bukit untuk mencari kayu bakar yang diletakkan di punggungnya untuk kemudian dijual sehingga ia dapat menutup keperluannya, adalah lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain, baik mereka memberi atau tidak". Bukhari (1471)


Dalam hadith ini Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam menerangkan kepada kita bahawa bekerja, apapun jenisnya, lebih baik daripada meminta-minta kepada orang lain dan menjatuhkan kehormatan diri kita. Betapa pun berat dan kerasnya pekerjaan tersebut, itu lebih baik daripada menghinakan diri untuk meminta-minta.


Pada hadith yang lain pula, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam juga menjelaskan bahawa makanan yang kita makan kerana hasil jerih dari usaha kita sendiri adalah makanan yang terbaik. Beliau Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


ما أكَلَ أحَدٌ طَعامًا قَطُّ، خَيْرًا مِن أنْ يَأْكُلَ مِن عَمَلِ يَدِهِ، وإنَّ نَبِيَّ اللَّهِ داوُدَ عليه السَّلامُ، كانَ يَأْكُلُ مِن عَمَلِ يَدِهِ


Maksudnya:"Tidaklah seseorang memakan makanan yang lebih baik dari memakan makanan hasil kerja tangannya sendiri. Sesungguhnya Nabi Allah Dawud ‘alaihissalam dahulu makan dari hasil kerja tangannya sendiri". Bukhari (2072)


Pada hadith tersebut, beliau juga meyebutkan bahawa Nabi Daud ‘alaihis salam makan dari hasil jerih payah usahanya sendiri. Padahal kita tahu bahawa Nabi Daud merupakan seorang Nabi yang telah Allah kurniakan dengan kerajaan yang sangat luas dan besar. Namun, Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam menegaskan bahawa beliau ‘alaihis salam makan dari hasil jerih usahanya sendiri dan bukan dengan jabatan ataupun yang dimilikinya.


Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam sangat bersemangat agar umatnya mencari nafkah yang halal dari hasil jerih upayanya sendiri dan tidak bergantung kepada orang lain. Di antara doa yang beliau rutinkan dan beliau ajarkan kepada umatnya adalah,


اللَّهُمَّ اكْفِنِى بِحَلاَلِكَ عَنْ حَرَامِكَ وَأَغْنِنِى بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ


Maksudnya:“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal dan jauhkanlah aku dari yang haram, dan cukupkanlah aku dengan kurnia-Mu dari bergantung pada selain-Mu". Ahmad (1319), Tirmidzi (3563) 


Di dalam surah Al-Muzammil, Allah Subhanahuwata’ala menyamakan kedudukan orang-orang yang keluar untuk mencari nafkah dengan mereka yang keluar untuk berjihad di jalan Allah. Allah Subhanahuwata’ala berfirman,


عَلِمَ أَن سَيَكُونُ مِنكُم مَّرْضَىٰ ۙ وَءَاخَرُونَ يَضْرِبُونَ فِى ٱلْأَرْضِ يَبْتَغُونَ مِن فَضْلِ ٱللَّهِ ۙ وَءَاخَرُونَ يُقَٰتِلُونَ فِى سَبِيلِ ٱللَّهِ


Maksudnya:"Dia mengetahui bahawa akan ada di antara kamu orang-orang yang sakit dan orang-orang yang berjalan di muka bumi mencari sebahagian kurniaan Allah; dan orang-orang yang lain lagi berperang di jalan Allah".  Al-Muzammil ayat 20.


Imam Al-Qurtubi rahimahullah dalam kitab Tafsir-nya mengatakan, “Dalam ayat ini Allah Subhanahuwata’ala menyamakan derjat orang-orang yang berperang dan orang-orang yang mencari nafkah (halal) untuk menghidupi diri sendiri dan keluarganya, dan untuk berbuat kebaikan dan keutamaan. Maka, ini adalah dalil bahawa mencari nafkah (yang halal) itu sama kedudukannya dengan jihad, kerana Allah Subhanahuwata’ala menyebutkannya bersamaan dengan penyebutan jihad di jalan Allah Ta’ala". Lihat Tafsir Al-Qurthubi, 19: 55.


Walaupun bekerja dan mencari nafkah seringkali dianggap sebagai rutin harian sahaja, namun disisi Allah hal tersebut dapat menjadi ibadah dan bernilai pahala yang besar. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


إِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِى بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلاَّ أُجِرْتَ عَلَيْهَا ، حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِى فِى امْرَأَتِكَ


Maksudnya:"Sungguh tidaklah engkau menginfakkan nafkah (harta) dengan tujuan mengharapkan (melihat) wajah Allah (pada hari kiamat nanti), kecuali kamu akan mendapatkan ganjaran pahala (yang besar), sehingga pun suapan makanan yang kamu berikan kepada isterimu". Bukhari (56)


Belum lagi dihitung, menafkahkan keluarga dan orang yang berada di bawah tanggungan kita yang merupakan salah satu dari bentuk sedekah yang paling utama. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


مَا أَطْعَمْتَ نَفْسَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ وَلَدَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ زَوْجَتَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ وَمَا أَطْعَمْتَ خَادِمَكَ فَهُوَ لَكَ صَدَقَةٌ


Maksudnya:"Harta yang engkau keluarkan sebagai makanan untukmu dinilai sebagai sedekah untukmu. Begitu pula makanan yang engkau berikan pada anakmu, itu pun dinilai sedekah. Begitu juga makanan yang engkau berikan pada isterimu, itu pun bernilai sedekah untukmu. Juga makanan yang engkau berikan pada pembantumu, itu juga termasuk sedekah". An-Nasa’i dalam As-Sunan Al-Kubra (9185 dan Ahmad (17179)


Pada hadith yang lain Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam juga bersabda,


عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ 


Maksudnya:"Wajib bagi setiap muslim bersedekah".

Kemudian para sahabat bertanya, “Wahai Nabi Allah, bagaimana kalau ada yang tidak sanggup?”

Beliau Sallallahu‘alaihiwasallam menjawab,


يَعْمَلُ بِيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ وَيَتَصَدَّقُ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ يُعِينُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوفَ قَالُوا فَإِنْ لَمْ يَجِدْ قَالَ فَلْيَعْمَلْ بِالْمَعْرُوفِ وَلْيُمْسِكْ عَنْ الشَّرِّ فَإِنَّهَا لَهُ صَدَقَةٌ


Maksudnya:"Dia bekerja dengan tangannya sehingga bermanfaat bagi dirinya lalu dia bersedekah.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau tidak sanggup juga?” Beliau menjawab, “Dia membantu orang yang sangat memerlukan bantuan.” Mereka bertanya lagi, “Bagaimana kalau tidak sanggup juga?” Beliau menjawab, “Hendaklah dia berbuat kebaikan (makruf) dan menahan diri dari keburukan kerana yang demikian itu berarti sedekah baginya". Bukhari (1445)


Sesiapa pun yang mengabaikan orang-orang yang berada di bawah tanggungannya dan tidak mahu menafkahi mereka, maka akan mendapatkan dosa kerana perbuatannya tersebut. Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam bersabda,


كَفَى بالمَرْءِ إثْمًا أَنْ يَحْبِسَ عَمَّنْ يَمْلِكُ قُوتَهُ


Maksudnya:"Cukuplah seseorang itu dikatakan berdosa apabila menahan makanan (nafkah, upah, dan lain sebagainya) dari orang yang menjadi tanggungannya".  Muslim (996)


Bekerja, meskipun di mata kita hanya rutin harian semata, namun disisi Allah Subhanahuwata’ala bernilai pahala jika diniatkan sebagai ibadah dan untuk memenuhi hak-hak orang-orang yang berada di bawah tanggung jawab kita. Kerana dengan niat yang benar, sebuah rutin dan aktiviti akan berubah nilainya di sisi Allah Subhanahuwata’ala. Benarlah sabda Nabi Sallallahu‘alaihiwasallam,


إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

  

Maksudnya:"Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang akan mendapatkan sesuai niatnya". Bukhari (1)


Semoga Allah Subhanahuwata’ala senantiasa mencukupi keperluan kita, meluaskan rezeki kita, dan menjadikan kita seorang hamba yang hanya bergantung kepada Allah Subhanahuwata’ala dan tidak bergantung kepada selain-Nya.


أَقُوْلُ قَوْلِيْ هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوْهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Wednesday, December 20, 2023

Keluarga harmoni dan silaturrahim (menyambung hubungan antara kaum kerabat

Keluarga harmoni dan silaturrahim (menyambung hubungan antara kaum kerabat .

Pembentukan keluarga harmoni dan sejahtera memerlukan satu rasa tanggungjawab yang begitu berat, dimana ia perlu dipikul oleh ibubapa yang mana ia merupakan satu amanah yang wajib dilaksanakan dengan sempurna oleh kedua-dua ibubapa dalam melahirkan generasi yang bakal menjadi pelaburan pada masa depan di dunia dan akhirat. 


Keamanan, keadilan, kesefahaman, sikap toleransi, kasih sayang dan kesejahteraan yang wujud dalam sesebuah keluarga adalah faktor utama dalam mewujudkan sebuah keluarga yang Harmoni, Bahagia dan Cemerlang di dunia dan di akhirat.


Bagi menjadikan harapan ini sebagai suatu kenyataan, setiap anggota keluarga harus tahu melaksanakan hak dan tanggungjawab mereka dan mempelajari ilmu kekeluargaan sama ada melalui pembacaan atau melalui pengalaman orang yang boleh dicontohi. Dalam mendidik keluarga, setiap individu terutama ibu dan bapa perlu ditanamkan dengan perasaan kasih sayang dan kasih mengasihani  antara satu sama lain. Firman Allah Subhanahuwata'ala dalam surah Al-Rum  ayat 21,


وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُمْ مَوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ


Maksudnya:"Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir".


Adalah menjadi tugas dan tanggungjawab suami dan isteri untuk mendukung dan menghayati konsep berkasih sayang dan kasih mengasihani antara satu sama lain. Antara amalan yang boleh dilaksanakan adalah bertakwa, bekerjasama, hormat menghormati, bersyukur, redha dengan ketentuan Allah dan sebagainya. Amalan-amalan ini merupakan antara jambatan atau laluan yang mendekatkan diri kita kepada kehidupan keluarga harmoni .

 

Untuk membentuk keluarga harmoni dan cemerlang semuanya perlulah bermula dari pembentukan asas rumahtangga. Dalil Hatith Nabi Muhammad mengenai 4 kunci kebahagiaan dalam rumah tangga. Sabda Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam,


اربع من السعادة, المراة الصالحة والمسكن الواسع والجار الصالح والمركب الهنيء واربع من الشقاوة الجار الشوء والمراةالسوء والمسكن الضيق والمركب السوء


Maksudnya:"“Empat perkara daripada tanda kebahagiaan ialah perempuan yang solehah, tempat tinggal yang lapang dan jiran yang baik serta memiliki kenderaan yang selesa dan empat tanda daripada keburukkan (kesusahan atau derita) ialah memiliki jiran yang jahat, isteri yang tidak baik, serta tempat tinggal yang sempit dan kenderaan yang buruk” .


(Hadith sahih riwayat Ibn Hibban dalam sahihnya no. 4032 dan Abu Nuaim dalam Hilyatul Auliya no. 388 Jilid 8 dan isnad hadith ini sahih dengan menepati syarat Syaikhain diriwayatkan juga oleh Ahmad m/s 1445 Jilid 1 dan Hakim no. 2640 dan Bazzar serta Tibrani dengan lafaz yang hampir sama).


Huraian hadith:


Wanita yang solehah - iaitu isteri yang baik yang dapat menguruskan keluarga dan rumahtangga dengan sempurna.


Rumah yang luas yang boleh memberikan keselesaan untuk bermesra  dengan keluarga dan anak-anak di samping dapat melapangkan fikiran dengan baik dan tenang.


Jiran yang baik kerana jiran merupakan orang yang paling rapat selepas sanak saudara dan keluarga. Jiran yang baik dapat menjamin keharmonian hidup bermasyarakat sehinggakan ikatan kejiranan itu boleh bertukar seakan-akan sebuah keluarga yang kasih-mengasihi dan saling mengambil berat di antara satu sama lain.


Kenderaan yang selesa kerana ia memberikan kemudahan dalam segala urusan.


Tanggungjawab membentuk sesebuah keluarga merupakan tanggungjawab bersama. Ini dapat di buktikan melalui Hadith Nabi Muhammad  Sallallahu'alaihiwasallam,


عَنْ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ كُلُّكُمْ رَاعٍ فَمَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ فَالْأَمِيرُ الَّذِي عَلَى النَّاسِ رَاعٍ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالرَّجُلُ رَاعٍ عَلَى أَهْلِ بَيْتِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُمْ وَالْمَرْأَةُ رَاعِيَةٌ عَلَى بَيْتِ بَعْلِهَا وَوَلَدِهِ وَهِيَ مَسْئُولَةٌ عَنْهُمْ وَالْعَبْدُ رَاعٍ عَلَى مَالِ سَيِّدِهِ وَهُوَ مَسْئُولٌ عَنْهُ أَلَا فَكُلُّكُمْ رَاعٍ وَكُلُّكُمْ مَسْئُولٌ عَنْ رَعِيَّتِهِ


Maksudnya:"Dari 'Abdullah radliallahu 'anhu bahawa Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam bersabda: "Setiap kalian adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas yang dipimpinnya. Amir (kepala Negara), dia adalah pemimpin manusia secara umum, maka dia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang suami dalam keluarganya adalah pemimpin dan akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang isteri adalah pemimpin di dalam rumah tangga suaminya dan terhadap anak-anaknya dan dia akan diminta pertanggung jawaban atas mereka. Seorang hamba sahaya adalah pemimpin dalam urusan harta tuannya dia akan diminta pertanggung jawaban atasnya. Ketahuilah bahawa setiap kalian adalah pemimipin dan setiap kalian akan diminta pertanggung jawaban atas siapa yang dipimpinnya". Riwayat Bukhari (2368).


Tanggungjawab dalam membentuk rumahtangga yang diingini bergantung kepada usaha, kerjasama dan kemahuan antara pasangan suami isteri. Kesepakatan, kejujuran, keikhlasan, hormat menghormati, sayang menyayangi, bertoleransi, berlaku adil, menerima seadanya diri pasangan dan bersyukur dengan ketetapan Allah merupakan antara prinsip yang harus diamalkan oleh suami isteri dalam membentuk rumahtangga yang harmoni.


RAHSIA MEMBENTUK KELUARGA HARMONI


1.  Mencari sumber pendapatan yang halal dan diredhai Allah

Cara pencarian rezeki juga boleh memberi kesan kepada keadaan keharmonian rumah tangga.

 

2. Rajin menimba ilmu pengetahuan dalam segala perkara

Ilmu kekeluargaan dan kehidupan perlu dicari bagi menjadi panduan dan rujukan kehidupan berkeluarga.


3.  Amalkan berkasih sayang dan kasih mengasihani

Kasih sayang perlu ditonjolkan kerana ia merupakan pemangkin semangat bagi setiap ahli keluarga.


4. Berkomunikasi lah secara positif selalu – No Nagging

Berkomunikasilah secara positif dengan isteri, suami & anak-anak dan elakkan dari kata/pemikiran negatif


5.  Amalkan amalan kerohanian bersama ahli keluarga

Selalulah berdoa dan lakukan amalan yang baik bersama-sama. Dekatkan diri pada yang – Esa.


6. Kejujuran, keikhlasan dan kepercayaan dalam diri setiap pasangan

Hubungan yang dikuatkan dengan rasa percaya,jujur dan ikhlas akan memberi kesan yang dalam kepada pasangan.


7.  Membentuk suasana yang mesra keluarga

Suasana persekitaran yang baik, selamat dan selesa memberi kesan kepada perhubungan keluarga.


8. Memainkan peranan dan tanggungjawab

Kenalpasti tanggungjawab dan peranan yang boleh dilaksanakan bersama.

 

9. Bersama membuat keputusan 

Setiap keputusan boleh dibuat bersama dan ianya perlulah adil, terbuka dan fleksibel untuk digunakan oleh seluruh ahli keluarga.

 

10. Mengelakkan konflik belarutan dan segerakan penyelesaian sesuatu isu bersama.

Setiap permasalahan ada penyelesaiannya. Berbincang secara tenang dan elakkan suasana beremosi ketika berbincang. Dan selalu berdoa untuk redha suami dan redha isteri dalam menyelesaikan konflik secara berhemah.


Dapat dinyatakan disini adalah penentu aras keharmonian sesebuah keluarga bukan semata mata kerana pangkat, harta, darjat dan kebendaan. Namun penentu sesebuah kebahagian keluarga adalah berpandukan kepada niat kita kepada Allah untuk menjadikan keluarga yang dimiliki ini sebagai  perlaburan masa depan di dunia dan akhirat serta mengakui kehidupan, keluarga, anak anak dan pasangan masing masing sebagai pinjaman Allah kepada kita. Keharmonian yang dicari oleh setiap keluarga adalah berbeza namun ianya perlulah dipupuk dari asas agama dan asas kehidupan melalui ilmu kehidupan dan ilmu kekeluargaan.


SILATURRAHIM (صلة الرحم) pula diambil daripada perkataan Arab iaitu hubungan yang terdekat. Ia membawa maksud memelihara dan menyambung hubungan dengan kaum kerabat yang terdekat.


Silaturrahim adalah menyambung hubungan antara kaum kerabat sama ada melalui garis keturunan atau melalui perkahwinan dengan pelbagai cara seperti mengunjungi mereka, memberi bantuan kepada mereka ketika memerlukan, mengambil cakna akan hal keadaan mereka dan seumpamanya.


Nab Sallallahu'alaihiwasallam ketika  sampai ke kota Madinah telah  bersabda,


أَيُّهَا النَّاسُ أَفْشوا السَّلامَ، وَأَطْعِمُوا الطَّعَامَ، وصلوا الأرحام وَصَلُّوا باللَّيْل وَالنَّاسُ نِيامٌ، تَدخُلُوا الجَنَّةَ بِسَلامٍ


Maksudnya: “Hai orang ramai. Sebarkanlah salam, berilah makan, sambunglah silaturrahim dan solatlah di waktu malam ketika mana manusia sedang tidur, nescaya kamu dapat masuk Syurga dengan sejahtera dan selamat". Riwayat Ibnu Majah (3251


Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


وَاتَّقُوا اللَّـهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّـهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا


Maksudnya: Dan bertaqwalah kepada Allah yang kamu selalu meminta dengan menyebut-yebut namaNya, serta peliharalah hubungan (silaturrahim) kaum kerabat; kerana sesungguhnya Allah sentiasa memerhati (mengawas) kamu".

Surah al-Nisa’ ayat 1.


Ibn Kathir berkata: Maksudnya, bertakwalah kamu kepada Allah dengan mentaati-Nya. Kata Ibrahim, Mujahid dan al-Hasan: "الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ" ertinya sebagaimana ucapan seseorang: "Aku meminta kepadamu dengan (nama) Allah dan dengan (hubungan) rahim."


Al-Dahhak berkata: "Bertakwalah kamu kepada Allah yang dengan-Nya kamu saling mengikat janji dan persetujuan, serta takutlah kamu daripada memutuskan silaturrahim, tetapi berusahalah untuk berbuat baik dan menyambungnya". 

Pentafsiran ini adalah pendapat Ibn Abbas, Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, al-Dahhak, al-Rabi' dan ramai ulama' yang lain.


Sebahagian ulama membaca " والأرحامِ " dengan khafadh (kasrah) sebagai athaf (sambungan) dari dhamir "بِهِ", maksudnya kamu saling meminta satu sama lain kepada Allah dan hubungan silaturrahim, sepertimana yang dinyatakan oleh Mujahid dan selainnya". Lihat Tafsir al-Quran al-'Azim, 3/332.


Dalam ayat lain, Allah Subhanahuwata'ala berfirman,


وَالَّذِينَ آمَنُوا مِن بَعْدُ وَهَاجَرُوا وَجَاهَدُوا مَعَكُمْ فَأُولَـٰئِكَ مِنكُمْ ۚ وَأُولُو الْأَرْحَامِ بَعْضُهُمْ أَوْلَىٰ بِبَعْضٍ فِي كِتَابِ اللَّـهِ ۗ إِنَّ اللَّـهَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ


Maksudnya: Dan orang-orang yang beriman sesudah itu, kemudian mereka berhijrah dan berjihad bersama-sama kamu, maka adalah mereka dari golongan kamu. Dalam pada itu, orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat, setengahnya lebih berhak atas setengahnya yang (lain) menurut (hukum) Kitab Allah; sesungguhnya Allah Maha Mengetahui akan tiap-tiap sesuatu". Al-Anfal ayat 75.


Ibn Kathir berkata: Bukanlah yang dimaksudkan dengan firman Allah Subhanahuwata'ala: “وَأُولُو الْأَرْحَامِ” (orang-orang yang mempunyai pertalian kerabat) dengan bersifat khusus sepertimana yang dikemukakan oleh para ulama' ahli ilmu faraidh, iaitu kaum kerabat yang tidak hanya mempunyai hak pewarisan secara fardhu dan juga asobah, tetapi semua pewaris seperti ibu saudara dan bapa saudara dari sebelah ibu, ibu saudara dari sebelah ayah, anak lelaki daripada anak perempuan (cucu), anak lelaki daripada saudara perempuan (anak saudara) dan lain-lain sebagaimana yang diakui oleh sebahagian mereka dengan menggunakan dalil ayat al-Quran, bahkan mereka meyakini hal itu dengan jelas. Namun, yang benar adalah bahawa ayat tersebut bersifat umum yang merangkumi seluruh kerabat seperti yang ditegaskan oleh Ibn Abbas, Mujahid, Ikrimah, al-Hasan al-Basri, Qatadah dan ulama yang lain. Lihat Tafsir al-Quran al-‘Azim, 2/302.


Al-Hafiz Ibn Hajar menukilkan bahawa Imam al-Qurtubi berkata: Al-Rahim yang disambungkan adalah merangkumi secara umum dan khusus. Adapun yang umum adalah rahim dalam agama, iaitu wajib menyambungkannya dengan mengasihi dan menasihati, bersikap adil dan tidak menzaliminya, serta menunaikan hak-hak yang wajib dan yang dituntut. Manakala al-Rahim yang khusus adalah menambahkan pada nafkah kepada kerabat, serta mengambil cakna hal ehwal mereka serta memberi kemaafan atas kegelinciran dan kesilapan mereka. Lihat Fath al-Bari, 10/418.


Allah Subhanahuwata'ala juga berfirman,


وَالَّذِينَ يَصِلُونَ مَا أَمَرَ اللَّـهُ بِهِ أَن يُوصَلَ وَيَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ وَيَخَافُونَ سُوءَ الْحِسَابِ


Maksudnya: Dan orang-orang yang menghubungkan perkara-perkara yang disuruh oleh Allah supaya dihubungkan, dan yang menaruh bimbang akan kemurkaan Tuhan mereka, serta takut kepada kesukaran yang akan dihadapi semasa soaljawab dan hitungan amal (pada hari kiamat); ". Al-Ra’d ayat 21.


Syeikh al-Maraghi berkata: Mereka mengikat tali perhubungan silaturrahim sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Subhanahuwata'ala. Lalu mereka bergaul dengan kaum kerabat dengan perasaan penuh kecintaan dan kebaikan. Seterusnya mereka berbuat kebaikan kepada golongan miskin dan golongan yang memerlukan pertolongan antara mereka dengan memberikan kebaikan kepada mereka dan menjauhkan bahaya daripada mereka mengikut kemampuan yang mereka ada". Lihat Tafsir al-Maraghi, 7/3510.


Perkataan silaturrahim (صلة الرحم) berasal daripada dua perkataan Arab iaitu “صلة” dan “الرحم”. Al-Raghib al-Asfahani menyebut,


الرَّحِمُ: رَحِمُ المرأة (أي بيت منبت ولدها ووعاؤه) . ومنه استعير الرَّحِمُ للقرابة، لكونهم خارجين من رحم واحدة


Maksudnya:“Al-Rahim yang dimaksudkan adalah rahim wanita iaitu tempat di mana janin berkembang dan terlindung (dalam perut wanita). Dan istilah al-rahim digunakan untuk menyebut kaum kerabat kerana mereka berasal dari satu rahim". (Lihat al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 347).


Antara hadith yang menyebut berkenaan menyambung silaturrahim, sepertimana sabda Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam,


مَنْ أَحَبَّ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ، وَيُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ، فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ


Maksudnya: “Barangsiapa yang ingin diluaskan rezekinya serta dipanjangkan usianya, maka hendaklah dia menyambung pertalian silaturrahim". Riwayat al-Bukhari (5986) dan Muslim (2557).


Imam Nawawi dalam menjelaskan hadis ini berkata: Yang dimaksudkan dengan ‘أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ’ adalah diluaskan dan dijadikan banyak hartanya. Menurut pendapat yang lain, maksudnya diberi keberkatan harta. Lihat Syarh al-Nawawi ‘ala Sahih Muslim, 16/114.


Manakala dalam hadith daripada Abu Ayyub al-Ansari R.A, Rasulullah Sallallahu'alaihiwasallam pernah ditanya berkenaan amalan yang dapat memasukkan ke dalam syurga, lalu Baginda Sallallahu'alaihiwasallam menjawab,


تَعْبُدُ اللَّهَ لاَ تُشْرِكُ بِهِ شَيْئًا ، وَتُقِيمُ الصَّلاَةَ ، وَتُؤْتِى الزَّكَاةَ ، وَتَصِلُ الرَّحِمَ


Maksudnya: “Sembahlah Allah dan jangan melakukan syirik pada-Nya, dirikanlah solat, tunaikanlah zakat dan jalinlah tali silaturrahim". Riwayat al-Bukhari (5983)


Imam Nawawi menyebut: “Adapun maksud silaturrahim, ia adalah berbuat baik kepada kaum kerabat sesuai dengan keadaan orang yang hendak menghubungkan dan keadaan orang yang hendak dihubungkan. Terkadang dalam bentuk kebaikan dengan harta, terkadang dengan memberi bantuan tenaga, terkadang dengan mengunjunginya, dengan memberi salam, dan sebagainya". Lihat al-Minhaj fi Syarh Sahih Muslim Ibn al-Hajjaj, 1/287.


Al-Hafiz Ibnu Hajar menyebut: Al-Rahim (الرحم) secara umum adalah dimaksudkan kepada kaum kerabat dekat. Antara mereka terdapat garis keturunan (nasab), sama ada berhak mewarisi atau tidak, dan sebagai mahram atau tidak. Menurut pendapat lain, mereka adalah daripada mahram (kerabat dekat yang haram dinikahi) sahaja. Pendapat pertama lebih kuat kerana menurut batasan kedua, anak-anak saudara dan anak-anak ibu saudara bukan kerabat yang dekat kerana tidak termasuk yang haram dinikahi, sedangkan ia tidaklah sedemikian. Lihat Fath al-Bari, 10/414.


Syeikh Mulla Ali al-Qari menyebut bahawa silaturrahim adalah ungkapan berkenaan berbuat baik kepada kaum kerabat yang dekat – sama ada mengikut garis keturunan atau melalui perkahwinan – berlemah lembut dan mengasihi mereka serta mengambil cakna akan hal keadaan mereka. Lihat Mirqat al-Mafatih, 8/645.


Ibn al-Athir pula menyebut: “Banyak hadith yang menyebutkan berkenaan silaturahim. Ia merupakan kinayah (yang memberi maksud secara tidak langsung) untuk perbuatan baik kepada kaum kerabat yang mempunyai hubungan nasab, atau kerabat kerana hubungan pernikahan, dengan berlemah-lembut dan memberi kasih sayang kepada mereka serta mengambil peduli akan hal keadaan mereka. Manakala memutuskan silaturrahim adalah lawan daripada semua perkara itu".Lihat al-Nihayah fi Gharib al-Hadith, 5/191-192.


Menghubungkan tali persaudaraan sesama kaum kerabat merupakan satu tuntutan dalam syarak dan mempunyai banyak kelebihan bagi mereka yang berusaha menyambung dan menjaganya.






 

Hukum menunaikan umrah buat kali pertama

Hukum menunaikan umrah buat kali pertama  Hukum menunaikan umrah buat kali pertama adalah wajib (sekali seumur hidup) bagi setiap Muslim muk...